Budaya Bali dalam Novel Kenanga Karya Oka Rusmini: Kajian Antropologi Sastra
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Masyarakat Bali memiliki warisan budaya yang khas berupa sistem kasta, adat istiadat, ritual keagamaan, serta struktur sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Novel Kenanga karya Oka Rusmini merefleksikan kehidupan masyarakat Bali, khususnya berkaitan dengan sistem kasta, pelaksanaan upacara adat, dan kehidupan sosial dalam lingkungan griya Brahmana. Novel ini menggambarkan eksistensi adat dan tradisi yang tidak hanya membentuk hubungan sosial masyarakat Bali, tetapi juga memengaruhi identitas, perkawinan, pewarisan status, hingga pelaksanaan ritual keagamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bali.
Kajian ini bertujuan mendeskripsikan keterkaitan antarunsur struktural dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini, yang meliputi tema, tokoh dan perwatakan, konflik, dan latar, serta ditinjau melalui perspektif antropologi sastra dalam kaitannya dengan budaya Bali. Metode penelitian yang digunakan yaitu pendekatan kualitatif dan analisis deskriptif. Objek material yang digunakan adalah novel Kenanga karya Oka Rusmini (2024) dengan objek formalnya berupa keterkaitan antarunsur struktural dan teori antropologi sastra. Satuan analisis dalam penelitian berupa kalimat, paragraf, maupun wacana yang memuat unsur-unsur struktural dan kultural.
Hasil analisis struktural merepresentasikan adanya keterkaitan antarunsur tema, tokoh dan penokohan, konflik, maupun latar dalam novel Kenanga karya Oka Rusmini. Tema mayor dalam novel tersebut yaitu perjuangan perempuan melawan dominasi patriarki, sedangan tema minor menitikberatkan pada konflik antara hasrat personal dan norma sosial, pembatasan pilihan hidup oleh sistem kasta, hegemoni adat dalam kehidupan individu, serta konstruksi maskulinitas dalam pola asuh laki-laki. Tokoh utama dalam novel tersebut Kenanga, sedangkan tokoh tambahannya Bhuana, Intan, Rahyuda, Jero Kemuning, Mahendra, dan Tuwe Gede. Tokoh didominasi dengan watak bulat (round character), kecuali tokoh Rahyuda yang tergolong tokoh dengan watak datar (flat character). Konflik yang terjadi yaitu konflik fisik dan konflik batin. Konflik fisik dialami oleh tokoh Kenanga, Bhuana, Mahendra, Tuwe Gede, dan Intan. Konflik batin dialami oleh Kenanga, Bhuana, Intan, dan Mahendra. Latar tempat dalam novel menggambarkan suasana di Bali, Yogyakarta, dan Jakarta. Latar waktu berlangsung pada rentang tahun 1970-an, 1980-an, serta 2012. Latar sosial dalam penceritaan digambarkan melalui interaksi sosial, kelas sosial, serta sistem kepercayaan yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Bali.
Analisis antropologi sastra terhadap novel Kenanga diklasifikasikan selaras dengan kerangka Tri Kerangka Agama Hindu yang meliputi aspek tattwa (filosofi, yang berkaitan dengan falsafah masyarakat Bali), susila (etika, yang berkaitan dengan sistem kemasyarakatan), dan acara (ritual keagamaan, yang berkaitan dengan upacara masyarakat Bali). Berdasarkan muatan substansi dalam novel Kenanga, falsafah masyarakat Bali memusatkan perhatian pada falsafah Tri Hita Karana. Falsafah tersebut berisi tiga konsep keseimbangan hidup yang meliputi parahyangan (hubungan manusia dengan Tuhan), pawongan (hubungan manusia dengan manusia), dan palemahan (hubungan manusia dengan alam semesta). Sistem kemasyarakatan ditinjau melalui sistem kasta dan sistem desa adat. Sistem kasta menitikberatkan pada persoalan hierarki sosial, perkawinan, dan eksistensi kasta sebagai warisan. Sistem desa adat mengelaborasi persoalan desa adat yang berperan sebagai pusat pelaksanaan aktivitas sosial, yang dalam kajian ini berhubungan dengan pratik ngayah dalam upacara ngaben. Upacara masyarakat Bali dianalisis melalui perspektif rna (hutang) yang akan ditebus dengan yadnya (upacara). Novel Kenanga menghadirkan tiga jenis yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, dan Pitra Yadnya. Dewa Yadnya merupakan persembahan kepada Tuhan, yang dalam novel tersebut diwujudkan melalui upacara Petoyan atau Piodalan. Manusa Yadnya berkaitan dengan persembahan yang ditujukan kepada manusia sejak lahir hingga dewasa, yang diimplementasikan melalui upacara Nyambutin, Mesangih, dan Pawintenan. Pitra Yadnya berkaitan dengan persembahan kepada leluhur yang dimanifestasikan dalam wujud upacara Ngaben.
Description
Reupload file repository juni 18 2026
