Pengaruh Konsentrasi Naa dan Kinetin Terhadap Induksi Tunas Tanaman Nilam Aceh (Pogostemon Cablin Benth)
Loading...
Date
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri atau essential oil yang banyak dimanfaatkan pada berbagai
bidang industri seperti farmasi, kosmetik hingga insektisida. Daun tanaman nilam
yang kering dapat disuling untuk menghasilkan minyak nilam yang mempunyai
daya fiksasi (pengikat) yang kuat sehingga aroma pewangi tidak menguap atau
tidak cepat hilang. Produktivitas tanaman nilam di Indonesia mengalami nilai yang
fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Tidak stabilnya produksi tanaman nilam
dapat disebabkan oleh berbagai hal diantaranya yaitu kualitas gen tanaman, pengendalian penyakit yang masih kurang, teknik budidaya, serta pengelolaan
panen dan pascapanen yang masih tradisional. Budidaya yang dilakukan secara
vegetatif mempunyai banyak kekurangan, sehingga dilakukan budidaya dengan
menggunakan teknik kultur jaringan. Kualitas tanaman nilam dapat dilihat dari
kandungan minyak atsiri di dalamnya dimana semakin tinggi kadar Patchouli
Alcohol (PA) yang dikandung tanaman nilam maka semakin berkualitas tinggi
tanaman nilam tersebut. Tanaman nilam yang diperbanyak dengan teknik kultur
jaringan memiliki kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi sebanyak 56, 30% dari
nilam yang diperbanyak secara vegetatif. Untuk memperoleh kualitas nilam yang
baik serta meningkatkan jumlah produksi, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh dan kombinasi ZPT NAA dan Kinetin untuk menginduksi
tunas tanaman nilam.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai kombinasi konsentrasi ZPT NAA dan Kinetin pada eksplan tanaman nilam dan juga untuk
mengetahui dosis terbaik dalam menginduksi pertumbuhan tunas tanaman nilam.
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 faktor perlakuan dan 3 pengulangan. Faktor pertama adalah NAA dengan konsentrasi 0 ppm, 0,5 ppm dan 1 ppm dan faktor kedua adalah Kinetin dengan
konsentrasi 0 ppm, 0,5 ppm dan 1 ppm. Parameter yang diteliti pada penelitian ini
adalah waktu kedinian tunas, panjang tunas, jumlah tunas, berat tunas dan persentase tumbuh tunas. Data pengamatan dilakukan analisis ANOVA dan dilanjut dengan uji DMRT dengan taraf error 5%.
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, pengaruh pemberian berbagai konsentrasi dari ZPT NAA mempunyai hasil yang berpengaruh nyata pada variabel
kedinian tunas dan berat tunas, berpengaruh nyata pada variabel jumlah tunas dan
tidak berpengaruh nyata pada variabel panjang tunas dan persentase tumbuh tunas.
Pemberian berbagai konsentrasi dari ZPT Kinetin memberikan hasil bahwa konsentrasi Kinetin mempunyai pengaruh yang berpengaruh sangat nyata pada
variabel kedinian tunas, jumlah tunas dan berat tunas, serta tidak berpengaruh nyata pada variabel panjang tunas dan persentase tumbuh tunas. Pada uji interaksi
diketahui bahwa interaksi dari NAA dan Kinetin memberikan hasil bahwa berpengaruh sangat nyata pada variabel panjang tunas, jumlah tunas dan berat
tunas, serta tidak berpengaruh nyata pada variabel kedinian tunas dan persentase
tumbuh tunas. Berdasarkan hasil penelitian, perlakuan NAA dengan konsentrasi 1
ppm dan Kinetin dengan konsentrasi 1 ppm memiliki hasil terbaik pada variabel
pengamatan waktu kedinian tunas, panjang tunas, jumlah tunas dan berat tunas.
Pada variabel waktu kedinian tunas, perlakuan 1 ppm NAA dan 1 ppm Kinetin
membutuhkan waktu rata-rata 8 HST. Pada variabel panjang tunas hasil dari 1 ppm
NAA dan 1 ppm Kinetin yaitu 6,63 cm. Jumlah tunas dari perlakuan 1 ppm NAA
dan 1 ppm Kinetin yaitu sebanyak 68,33 tunas. Variabel berat tunas dari perlakuan
1 ppm NAA dan 1 ppm Kinetin yaitu 7,71 gram.
Description
Reuploud file repositori 27 Jan 2026_Firli
