Penerapan Teknik Deep Breathing Relaxation pada Pasien Post Appendectomy dengan Nyeri Akut di Ruang Asparaga RSUD dr. Haryoto Lumajang
| dc.contributor.author | Najibah Miftahur Rohmah | |
| dc.date.accessioned | 2026-07-10T08:32:57Z | |
| dc.date.issued | 2026-05-21 | |
| dc.description | Finalisasi Maya_10 Juli 2026 | |
| dc.description.abstract | Appendisitis merupakan inflamasi apendiks akibat obstruksi lumen yang berisiko tinggi menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani. Prosedur appendictomy sebagai terapi utama sering kali menimbulkan masalah keperawatan nyeri akut akibat diskontinuitas jaringan dan pelepasan mediator inflamasi pascaoperasi. Salah satu intervensi untuk menurunkan intensitas nyeri adalah teknik relaksasi nafas dalam. Terapi ini bekerja dengan menekan aktivitas saraf simpatis dan merelaksasi otot guna meningkatkan kenyamanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan teknik deep breathing relaxation pada pasien post appendectomy dengan nyeri akut. Penulisan ini menggunakan desain studi kasus. Partisipan adalah Tn. A. yang dirawat di Ruang Asparaga RSUD dr. Haryoto Lumajang, diagnosis post appendictomy, usia 38 tahun, mengalami masalah keperawatan nyeri akut, composmentis, tidak mengalami gangguan pendengaran dan pernafasan, skala nyeri 9 (nyeri berat) berdasar NRS, bersedia menandatangani informed consent.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tn. A memenuhi 80% tanda mayor nyeri akut, yaitu mengeluh nyeri pada luka operasi dengan skala 9, meringis saat bergerak, menunjukkan sikap protektif, tampak gelisah, dan frekuensi nadi 112 ×/menit. Juga ditemukan 2 tanda minor berupa tekanan darah 138/90 mmHg dan pola napas cepat (frekuensi napas 22 ×/menit). Intervensi yang dilakukan adalah deep breathing relaxation selama 3 hari dengan frekuensi 1–2 kali sehari selama 10–15 menit. Setelah implementasi, terjadi penurunan nyeri akut ditandai dengan penurunan skala nyeri 3, tidak meringis saat bergerak, tidak menunjukkan sikap protektif, tidak tampak gelisah, frekuensi nadi 93 ×/menit, pola napas normal dengan frekuensi 20 ×/menit, dan tekanan darah 130/80 mmHg. Temuan ini menunjukkan bahwa deep breathing relaxation efektif menurunkan nyeri pada pasien post appendictomy melalui pengaturan napas yang dalam, lambat, dan terkontrol sehingga meningkatkan kenyamanan dan menurunkan persepsi nyeri. Oleh karena itu, peneliti selanjutnya diharapkan mengembangkan variasi jumlah dan durasi sesi untuk menilai efektivitasnya, serta perawat diharapkan menerapkannya sebagai intervensi pada pasien nyeri akut. Kata kunci: apendisitis, appendictomy, deep breathing relaxation, nyeri akut | |
| dc.description.sponsorship | DPU : Laili Nur Azizah., S.Kep., Ners, M.Kep | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/11024 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Keperawatan | |
| dc.subject | Appendisitis | |
| dc.subject | Nyeri Akut | |
| dc.subject | Appendictomy | |
| dc.subject | Deep Breathing Relaxation | |
| dc.title | Penerapan Teknik Deep Breathing Relaxation pada Pasien Post Appendectomy dengan Nyeri Akut di Ruang Asparaga RSUD dr. Haryoto Lumajang | |
| dc.type | Other |
