Kajian Produktivitas dan Simpanan Karbon Agroforestri Kopi di Desa Sidomulyo
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
Abstract
Indonesia termasuk produsen kopi terbesar keempat dunia, namun
produktivitasnya masih rendah karena praktik budidaya petani rakyat yang belum
seragam. Di tengah tantangan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian, sistem
agroforestri menjadi solusi potensial yang belum banyak dikaji dari sisi
produktivitas dan mitigasi iklim secara bersamaan. Penelitian ini membandingkan
dua sistem agroforestri kopi, lahan naungan pinus dan naungan campuran berlokasi
di Kelompok Perhutanan Sosial Artha Wana Mulya Barokah, Desa Sidomulyo,
Kabupaten Jember. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari–Maret 2026,
menggunakan delapan plot per lahan dengan metode purposive sampling.
Produktivitas diukur melalui wawancara petani, sementara simpanan karbon
diestimasi dari biomassa pohon (persamaan allometrik), biomassa tumbuhan
bawah, dan karbon organik tanah, lalu dikonversi ke nilai ekonomi CO₂.
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan antara kedua sistem agroforestri
kopi. Produktivitas pada naungan campuran menghasilkan buah kopi mencapai
6.625 kg/ha dibandingkan naungan pinus menghasilkan buah kopi 1.687,5 kg/ha.
Simpanan karbon pada naungan campuran juga unggul dengan nilai simpanan
sebesar 179,94 ton C/ha dan serapan setara 660,4 ton CO₂-eq, dibandingkan
naungan pinus dengan simpanan 120,41 ton C/ha dengan serapan setara 441,9 ton
CO₂-eq. Nilai ekonomi karbon pada naungan campuran yakni sekitar Rp19.812.000
dibandingkan naungan pinus sekitar Rp13.257.000. Selain itu, kualitas tanah pada
naungan campuran secara konsisten menunjukkan kandungan C-organik, nitrogen,
fosfor, dan kadar air yang lebih tinggi dibandingkan naungan pinus. Keunggulan
naungan campuran ini dikaitkan dengan kondisi ekosistem yang lebih seimbang.
Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara produktivitas kopi dan
kemampuan dalam menyimpan karbon, dengan keanekaragaman vegetasi naungan
sebagai faktor penghubung utama di antara keduanya.
Description
Finalisasi Repository/HASYIM Agustus 2026
