Implikatur Nonkonvensional Tuturan Guru dalam Pembelajaran di SMA Negeri Arjasa: Kajian Pragmatik
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Pembelajaran merupakan proses penyampaian ilmu pengetahuan yang
bertujuan untuk memberikan sesuatu yang bermakna bagi peserta didik dalam
situasi formal yang difasilitasi oleh guru. Guru sebagai fasilitator pembelajaran
tentu menggunakan tuturan pada saat pembelajaran sedang berlangsung. Tuturan tuturan yang dimunculkan dapat memiliki makna dan maksud yang berbeda. Hal
ini dapat dikatakan bahwa guru telah menggunakan implikatur tuturan. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan wujud dan fungsi implikatur
nonkonvensional, menginterpretasikan manfaat penggunaan implikatur
nonkonvensional, dan memaparkan tanggapan peserta didik terhadap penggunaan
implikatur nonkonvensional tuturan guru pada saat pembelajaran berlangsung.
Penelitian ini tergolong ke dalam jenis penelitian kualitatif. Wujud data
penelitian ini adalah kata-kata dalam tuturan guru dan konteks yang menyertainya.
Subjek penelitian ini adalah guru mata pelajaran Sejarah Indonesia dan Bahasa
Indonesia. Tempat penelitian di SMA Negeri Arjasa. Data penelitian
dikumpulkan dengan menggunakan teknik simak, catat, rekam, dan wawancara.
Setelah diurutkan dan diberi kode, data dianalisis dengan menggunakan
pendekatan pragmatik. Analisis data dilakukan untuk mengungkap wujud dan
fungsi implikatur nonkonvensional, manfaat penggunaan implikatur
nonkonvensional, dan memaparkan tanggapan peserta didik terhadap penggunaan
implikatur nonkonvensional yang dilakukan guru.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mengajar guru menggunakan
implikatur nonkonvensional. Implikatur nonkonvensional yang digunakan dalam
bentuk modus tuturan yang berbeda-beda. Wujud yang ditemukan ialah modus
deklaratif, imperatif, dan interogatif. Implikatur nonkonvensional yang
diwujudkan dengan modus deklaratif memiliki ciri, yaitu terdapat subjek (S) danPredikat (P) sebagai penanda menyatakan sesuatu hal. Modus imperatif
diwujudkan dengan menggunakan kata kerja yang biasanya juga diikuti dengan
partikel –lah atau –kan sebagai wujud perintah atau suruhan. Modus interogatif
diwujudkan dengan membubuhkan pemarkah pertanyaan seperti apa, siapa,
bagaimana, dan sebagainya. Selain itu, modus interogatif juga ditandai dengan
penggunaan partikel –kah
Selanjutnya, implikatur nonkonvensional yang dimunculkan oleh guru
juga memiliki fungsi yang bervariasi. Pertama, berfungsi meminta atau menyuruh
peserta didik untuk melakukan suatu hal. Kedua, implikatur yang berfungsi
mengancam peserta didik agar tidak melakukan perbuatan atau aktivitas tertentu.
Berikutnya, fungsi menasihati agar peserta didik mampu menjadi seseorang yang
lebih baik. Keempat, fungsi menyindir peserta didik agar lebih peka dan sigap
atas sesuatu hal. Terakhir, fungsi menegur peserta didik agar segera memperbaiki
(mengubah) perilaku atau sikap yang kurang pantas. Fungsi-fungsi tersebut
ditemukan dengan cara mengaitkan antara tuturan dengan konteks yang gayut di
dalamnya.
Selain itu, penggunaan implikatur oleh guru dilatarbelakangi oleh hal-hal
tertentu, yaitu untuk memperhalus tuturan, melatih kepekaan, memunculkan
kesan humor, dan memotivasi peserta didik. Motivasi guru untuk memperhalus
tuturan agar peserta didik tidak tersinggung dengan ucapan guru. Guru juga
termotivasi untuk melatih kepekaan peserta didik agar mampu tanggap dan sigap
dalam menghadapi suatu permasalahan. Latar belakang penggunaan implikatur
untuk memunculkan kesan humor dilakukan guna mencairkan suasana
pembelajaran yang mulai terasa jenuh. Selanjutnya, guru menggunakan
implikatur dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memotivasi peserta didik agar
menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya. Peserta didik senang dengan
penggunaan implikatur nonkonvensional oleh guru karena merasa dihargai. Rasa
senang tersebut karena peserta didik secara umum telah memahami implikatur
nonkonvensional yang digunakan oleh guru.
Description
Entry oleh Arif 2026 Februari 23
