Gambaran Masalah Keperawatan pada Pasien Post Operasi Fraktur Ekstremitas Bawah di RSD dr. Soebandi Kabupaten Jember 

Abstract

Fraktur merupakan kondisi terputusnya kesinambungan tulang yang umumnya terjadi akibat tekanan eksternal yang berlebihan. Di Indonesia, fraktur ekstremitas bawah merupakan jenis fraktur yang paling banyak terjadi, dimana sebagian besar kasusnya disebabkan oleh trauma akibat kecelakaan. Penatalaksanaan fraktur umumnya dilakukan melalui tindakan operatif untuk memperbaiki deformitas tulang serta mengembalikan fungsi struktur secara optimal. Namun, tindakan operatif dapat menimbulkan berbagai efek post operasi yaitu nyeri hebat, pembengkakan pada area pembedahan, serta keterbatasan mobilitas yang berdampak pada kemampuan berjalan. Salah satu aspek penting dalam perawatan pasien adalah penegakan masalah keperawatan. Ketepatan dalam mengenali masalah keperawatan dan menegakkan diagnosis keperawatan menjadikan perawat memiliki peran penting untuk mendukung penyembuhan pasien serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran masalah keperawatan pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah di RSD dr. Soebandi Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif dan pendekatan retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah yang dirawat inap di RSD dr. Soebandi Jember dengan diagnosis primer fraktur ekstremitas bawah tanpa penyakit penyerta pada tahun 2023 sampai 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan perhitungan rumus slovin sehingga didapatkan sampel sebanyak 105 pasien. Pengumpulan data dilakukan di ruang rekam medis RSD dr. Soebandi Jember. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dengan pendekatan statistic deskriptif. Data yang terkumpul berupa karakterikstik pasien, masalah keperawatan, serta tanda dan gejala masalah keperawatan dianalisis dan dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi dengan ukuran presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada pada kelompok usia 17–25 tahun (33,3%), dengan proporsi jenis kelamin laki-laki sebesar (66,7%). Jenis operasi yang paling banyak dilakukan adalah Open Reduction and Internal Fixation (ORIF) sebesar (96,2%), sedangkan lokasi fraktur terbanyak adalah fraktur femur (65,7%). Masalah keperawatan dengan prevalensi tertinggi adalah nyeri akut (100,0%), dengan gejala utama mengeluh nyeri (100,0%). Masalah keperawatan kedua adalah gangguan mobilitas fisik (88,6%), dengan tanda objektif gerak terbatas (98,9%) sebagai gejala utama. Gangguan integritas kulit/jaringan ditemukan pada (35,2%), dengan gejala kerusakan integritas jaringan dan/atau lapisan kulit (100,0%) dan nyeri (91,9%). Risiko infeksi ditemukan pada (22,9%). Masalah keperawatan dengan prevalensi rendah adalah risiko jatuh (1,0%). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa masalah keperawatan yang paling sering ditemukan pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah meliputi nyeri akut, gangguan mobilitas fisik. Maka dari itu, temuan ini dapat menjadi dasar bagi perawat untuk merencanakan dan melaksanakan intervensi dan implementasi yang tepat untuk menangani permasalahan nyeri dan gangguan mobilitas fisik pada pasien post operasi fraktur ekstremitas bawah.

Description

Finalisasi 2 September 2026_Yudi

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By