Pengaruh Budaya Organisasi dan Gaya Kepemimpinan terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Karyawan di Lingkungan Kantor Pusat Universitas Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ekonomi
Abstract
Organisasi merupakan kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar,
dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, bekerja secara terus
menerus untuk mencapai tujuan (Robbins, 2001:79). Secara eksplisit, definisi
tersebut mengasumsikan kebutuhan untuk mengkoordinasikan pola interaksi
manusianya. Pola interaksi sumber daya manusia dalam organisasi harus
diseimbangkan dan diselaraskan agar organisasi dapat tetap eksis. Permasalahan
yang berkaitan dengan sumber daya manusia dalam suatu organisasi menuntut
untuk diperhatikan, sebab secanggih apapun teknologi yang dipergunakan dalam
suatu organisasi serta sebesar apapun modal organisasi, karyawan dalam
organisasilah yang pada akhirnya yang menjalankan. Hal ini menunjukkan bahwa
tanpa didukung dengan kualitas yang baik dari karyawan dalam melaksanakan
tugasnya keberhasilan organisasi tidak tercapai.
Kontribusi karyawan pada suatu organisasi akan menentukan maju atau
mundurnya organisasi. Kontribusi karyawan pada organisasi akan menjadi
penting, jika dilakukan dengan tindakan efektif dan berperilaku secara benar.
Tidak hanya jumlah usaha tetapi juga arah dari usaha. Sifat-sifat yang ada pada
diri karyawan, upaya atau kemauan untuk bekerja, serta berbagai hal yang
merupakan dukungan dari organisasi sangat besar artinya bagi keberhasilan
kinerja karyawan (Suhardi Sigit, 2001). Dengan demikian setiap karyawan perlu
mengetahui dengan pasti apa yang menjadi tanggung jawab utamanya, kinerja
seperti apa yang harus dicapainya serta dapat mengukur sendiri sesuai indikator
keberhasilannya.
Banyak hal yang menjadi perhatian pihak manajemen guna mendorong
kinerja karyawan diantaranya dalam kaitan budaya organisasi, gaya
kepemimpinan dan kepuasan kerja bagi karyawannya. Gagasan budaya organisasi
telah menjadi penting dalam studi tentang perilaku organisasi. (Caldwell, et al,
1991). Meskipun ketidak setujuan diantara beberapa elemen definisi dan pengukuran, para peneliti tampak sepakat bahwa budaya merupakan faktor
penting dalam penentuan bagaimana sebaiknya seseorang individu menyesuaikan
dengan konteks organisasi. O’Reilly (1989), pada penelitian awal tentang norma
pengukuran memperlihatkan dua karakteristik penting dari budaya yang kuat.
Salah satunya adalah intensitasnya terhadap bagian anggota organisasi yakni
pertama menunjukkan persetujuan atau ketidaksetujuan terhadap mereka yang
bertindak dengan cara tertentu, kedua adalah adanya kristalisasi atau kesepakatan
yang luas terhadap nilai tersebut diantara anggota. Jika tidak ada kesepakatan
bahwa serangkaian nilai yang terbatas penting dalam suatu unit sosial, budaya
yang kuat tidak ada. Jika ada kesepakatan kuat dan meluas tentang arti penting
nilai-nilai tertentu, sistem nilai sentral atau budaya kuat mungkin ada. Banyak
penelitian telah menyimpulkan bahwa kesesuaian karyawan terhadap budaya
organisasi meningkatkan komitmen, kepuasan, dan kinerja. Namun penelitian
empiris terhadap hubungan ini yang telah dilakukan masih sedikit.
Sementara pendapat Daulatram (2003), bahwa perembesan budaya
organisasi membutuhkan pengenalan dimensi-dimensi dasar dari budaya
organisasi dan pengaruhnya pada variabel yang berkaitan dengan karyawan
seperti kepuasan, komitmen, kohesi, implementasi strategi, kinerja, dan lain-lain.
Relatif sedikit studi empiris yang telah menguji hubungan ini. Menurut Odom, et
al (1990) meneliti hubungan antara hubungan budaya organisasi, komitmen,
kohesi dan kepuasan kerja. Dalam studi yang berkaitan, Nystrom (1993) meneliti
perawatan kesehatan, menemukan bahwa karyawan pada budaya yang kuat
cenderung mengekspresikan komitmen organisasi yang lebih besar sebagaimana
kepuasan kerja yang tinggi.
Description
Finalisasi_Maya_9 Juni 2026
