Pengaruh Variasi Sudut Kemiringan Lereng Tunggal terhadap Hasil Optimasi Pit Limit Penambangan Batubara berdasarkan Metode Lerchs-Grossmann
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknik
Abstract
Penentuan sudut kemiringan lereng dalam desain pit tambang batubara
menghadapi permasalahan berupa hubungan yang saling bertolak belakang antara
aspek ekonomi dan geoteknik. Sudut lereng yang lebih curam mampu memperluas
batas pit sehingga meningkatkan tonase batubara tertambang dan nilai Net Present
Value (NPV), namun berpotensi menurunkan kestabilan lereng. Sudut lereng yang
lebih landai memberikan tingkat kestabilan yang lebih baik, tetapi membatasi batas
pit dan mengurangi potensi keuntungan ekonomi. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan menganalisis pengaruh variasi sudut kemiringan lereng terhadap nilai
NPV, tonase batubara tertambang, dan Faktor Keamanan (FK), serta menentukan
rekomendasi desain pit akhir yang optimal berdasarkan pertimbangan ekonomi dan
geoteknik. Penelitian dilakukan pada wilayah pertambangan batubara di Kabupaten
Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan, yang berada pada Cekungan Barito dengan
endapan batubara Formasi Warukin, sebagai salah satu daerah pertambangan
batubara utama di Indonesia.
Penelitian dilaksanakan melalui berbagai tahapan, mencakup tahapan studi
literatur, pengumpulan data sekunder, pengolahan data, analisis data, serta
penyusunan laporan. Data sekunder yang digunakan meliputi blok model cadangan
batubara, data litologi, data topografi, serta parameter ekonomi dan teknis.
Pengolahan data dilakukan melalui optimasi pit limit menggunakan algoritma
Lerchs-grossmann pada delapan skenario variasi sudut lereng tunggal yakni 20°
hingga 55° dengan interval 5°. Metode Lerchs-grossmann dipilih dalam penelitian
ini karena mampu menghasilkan batas pit optimal berdasarkan kombinasi
parameter biaya, pendapatan, serta batasan geometri seperti sudut lereng secara
sistematis dan objektif. Optimasi pit dilakukan dengan bantuan aplikasi lunak untuk
menghasilkan pit shell yang nantinya akan digunakan untuk membuat desain
ultimate pit limit dari seluruh skenario sudut lereng. Seluruh parameter ekonomi
diasumsikan tetap meliputi harga jual batubara, biaya penambangan, biaya
pengolahan dan biaya pemasaran. Hasil optimasi setiap skenario selanjutnya
digunakan sebagai dasar pembuatan penampang dua dimensi untuk analisis
kestabilan lereng menggunakan Metode Bishop. Data hasil optimasi pit dan analisis
kestabilan lereng setiap skenario selanjutnya dibandingkan dan dievaluasi
berdasarkan integrasi nilai NPV dan Faktor Keamanan untuk menarik kesimpulan
mengenai rekomendasi desain pit akhir yang memiliki nilai ekonomi yang layak
sekaligus nilai Faktor Keamanan (FK) yang memenuhi Kepmen ESDM No. 1827.
Peningkatan sudut lereng memberikan pengaruh yang signifikan dan
konsisten terhadap seluruh parameter yang dianalisis dalam penelitian ini. Nilai
NPV meningkat secara monoton dari 1.281 juta USD pada sudut 20° hingga 2.552
juta USD pada sudut 55°, dengan laju peningkatan tertinggi terjadi pada rentang
sudut 20°- 30°, sebelum melambat pada sudut-sudut berikutnya. Peningkatan NPV
tersebut disertai peningkatan IRR secara konsisten dari 62,92% pada sudut 20°
hingga mencapai nilai tertinggi sebesar 89,95% pada sudut 55°. Tonase batubara
tertambang meningkat dari 99.907.338 ton pada sudut 20° menjadi 160.509.491 ton
pada sudut 55° atau meningkat sebesar 60,65%, diikuti peningkatan volume
material waste dari 79.771.754 m3
menjadi 130.434.035 m3
atau meningkat sebesar
63,51%. Nilai stripping ratio pada seluruh skenario relatif stabil dalam rentang
0,79–0,81, menunjukkan bahwa variasi sudut lereng tidak menyebabkan perubahan
signifikan pada efisiensi pengupasan meskipun volume material yang terlibat
meningkat drastis. Dari aspek geoteknik, peningkatan sudut lereng menyebabkan
penurunan progresif nilai FK dari 1,272 pada sudut 20° hingga 0,503 pada sudut
55°, dengan penurunan yang relatif kecil pada rentang sudut 20°–25° yakni dari
1,272 menjadi 1,197, sebelum mengalami akselerasi signifikan mulai sudut 30° ke
atas dengan laju penurunan yang semakin besar hingga mencapai titik terendah
pada sudut 55°. Pola penurunan FK yang semakin akseleratif ini mengindikasikan
adanya ambang kritis tepat pada rentang sudut 20°–25°, yaitu titik di mana kurva
FK menembus batas minimum FK ≥ 1,2, sehingga respons geoteknik lereng
menjadi tidak proporsional terhadap manfaat ekonomi yang diperoleh pada sudutsudut di atasnya.
Berdasarkan perbandingan nilai NPV dan Faktor Keamanan (FK) dengan
mengacu pada ambang batas minimum FK ≥ 1,2 sesuai Kepmen ESDM No. 1827
hanya sudut lereng 20° yang memenuhi persyaratan kestabilan lereng, sehingga
sudut tersebut direkomendasikan sebagai desain pit akhir. Desain tersebut
menghasilkan NPV 1.281 juta USD, tonase batubara tertambang sebesar
99.907.338 ton dan FK sebesar 1,272, namun nilai Faktor Keamanan (FK) yang
dihasilkan merupakan nilai dalam kondisi lereng jenuh dengan air. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penentuan desain pit tidak dapat didasarkan pada peningkatan
nilai ekonomi semata, namun harus mempertimbangkan pemenuhan kriteria
kestabilan lereng sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Description
Validasi file repositori 19 Agustus 2026_Firli
