Life Cycle Assessment (Lca) Pengolahan Kopi Robusta (Coffea Canephora) Pada Proses Natural Pecah Kulit (Studi Kasus Kups Kopi Rengganis)

Abstract

Indonesia merupakan salah satu produsen kopi Robusta terbesar di dunia dan memiliki potensi besar untuk meningkatkan daya saing industri kopi nasionalnya. Salah satu metode pengolahan pascapanen yang diterapkan adalah metode *natural dry-hulled*, yang menghasilkan kopi berkualitas tinggi sekaligus lebih hemat air dibandingkan metode *full-washed*. Saat ini, proses pengolahan kopi masih bergantung pada energi berbasis bahan bakar fosil dan listrik, yang dapat menghasilkan emisi gas rumah kaca serta menimbulkan berbagai dampak lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsumsi energi, emisi, dan dampak lingkungan yang terkait dengan proses pengolahan kopi Robusta (metode *natural-depulping*) di KUPS Kopi Rengganis dengan menggunakan pendekatan *Life Cycle Assessment* (LCA). Studi ini menggunakan batasan sistem *gate-to-gate* dengan unit fungsional sebesar 200 kg buah kopi merah (*coffee cherry*). Analisis dilakukan sesuai dengan standar ISO 14040, yang mencakup penetapan tujuan dan ruang lingkup, inventarisasi siklus hidup (*Life Cycle Inventory* atau LCI), penilaian dampak siklus hidup (*Life Cycle Impact Assessment* atau LCIA), serta interpretasi siklus hidup. Pengolahan data dilakukan menggunakan Microsoft Excel, sedangkan analisis dampak lingkungan menggunakan perangkat lunak OpenLCA dengan metode CML 2001. Hasil penelitian menunjukkan total konsumsi energi sebesar 178,61 MJ, dengan tahap penyangraian (*roasting*) sebagai konsumen energi terbesar, yakni sebesar 102,77 MJ. Analisis dampak lingkungan menunjukkan nilai *Global Warming Potential* (GWP) sebesar 18,76068 kg CO2-eq, *Acidification Potential* (AP) sebesar 0,09110 kg SO2-eq, dan *Eutrophication Potential* (EP) sebesar 1,34556 kg PO43--eq. Tahap penyangraian teridentifikasi sebagai titik kritis lingkungan (*environmental hotspot*) karena penggunaan LPG dan listrik yang menghasilkan emisi CO2, CH4, N2O, SO2, dan NOx tertinggi dibandingkan tahap lainnya. Langkah perbaikan yang disarankan adalah meningkatkan kapasitas penyangraian per *batch*. Hasil simulasi skenario perbaikan menunjukkan penurunan nilai GWP sebesar 26,34%.

Description

Finalisasi oleh agus/Agustus 2026

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By