Pengaruh Hidrogel Bioselulosa Ekstrak Kokon Ulat Sutra Eri (Samia cynthia ricini) terhadap Ekspresi VEGF dan COL3 pada Luka Sayat Tikus
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Farmasi
Abstract
Luka merupakan kejadian yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari dan penyembuhannya melibatkan empat fase biologis yang saling tumpang tindih, yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Gangguan pada salah satu fase ini dapat menghambat regenerasi jaringan dan berisiko menyebabkan luka kronis, sehingga penanganan luka yang tepat menjadi penting. Salah satu upaya yang banyak dikembangkan adalah wound dressing modern berbasis hidrogel bioselulosa, yang mampu menjaga kelembapan luka, bersifat biokompatibel, dan mendukung regenerasi jaringan secara optimal. Efektivitas hidrogel bioselulosa dapat ditingkatkan melalui penambahan bahan aktif, salah satunya protein serisin yang diekstraksi dari kokon ulat sutra Eri (Samia cynthia ricini). Ekstrak kasar serisin juga dilaporkan mengandung senyawa fenolik yang memiliki aktivitas antioksidan, antibakteri, dan antiinflamasi yang berpotensi mendukung penyembuhan luka. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hidrogel bioselulosa yang diimpregnasi ekstrak air kokon ulat sutra Eri (AKE), khususnya pada dosis 750 mg mampu mempercepat penyembuhan luka sayat tikus Wistar jantan secara makroskopis dan histopatologis. Meskipun demikian, mekanisme molekuler yang mendasarinya belum dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh hidrogel bioselulosa ekstrak AKE terhadap ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) dan kolagen tipe III (COL3) pada luka sayat tikus Wistar jantan sebagai gambaran proses angiogenesis dan pembentukan matriks ekstraseluler selama penyembuhan luka. Penelitian eksperimental murni ini menggunakan lima kelompok, yaitu kontrol negatif (NaCl 0,9%), kontrol positif (hidrogel bioselulosa terimpregnasi kloramfenikol 250 mg), serta tiga kelompok perlakuan hidrogel bioselulosa ekstrak AKE dengan dosis 250 mg, 500 mg, dan 750 mg. Ekspresi VEGF dan COL3 dievaluasi melalui pewarnaan imunohistokimia pada jaringan luka hari ke-3 dan 9, kemudian dinilai menggunakan metode Immunoreactive Score (IRS). Mengingat jumlah replikasi biologis pada tiap kelompok dan waktu pengamatan yang terbatas, data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kecenderungan ekspresi kedua biomarker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi VEGF dan COL3 berubah secara dinamis dari hari ke-3 menuju hari ke-9 dengan pola yang bervariasi antarkelompok. Kelompok AKE 750 mg menunjukkan pola paling konsisten dengan dinamika penyembuhan luka, yaitu ekspresi VEGF tertinggi pada hari ke-3 yang kemudian menurun tajam menjadi terendah pada hari ke-9, sedangkan ekspresi COL3 tertinggi pada hari ke-3 dan tetap tertinggi pada hari ke-9 meski menurun. Pola tersebut mengindikasikan respons angiogenik dan deposisi kolagen tipe III yang berlangsung lebih awal, sejalan dengan temuan makroskopis dan histopatologis sebelumnya yang menunjukkan penutupan luka dan perbaikan jaringan paling optimal pada dosis yang sama. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa hidrogel berbasis bioselulosa ekstrak AKE memiliki kecenderungan memengaruhi ekspresi VEGF dan COL3 selama penyembuhan luka sayat tikus, dengan kelompok AKE 750 mg diduga mengalami transisi dari fase proliferasi akhir menuju remodeling awal yang paling progresif dibandingkan kelompok lain. Mengingat keterbatasan jumlah replikasi biologis, hasil ini bersifat deskriptif dan memerlukan konfirmasi lebih lanjut melalui penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar dan analisis statistik inferensial.
Description
Finalisasi Maya_19 Oktober 2026
