Efek Perbedaan Dosis Ekstrak Kulit Bawang Merah terhadap Histopatologi Tiroid Tikus pada Uji Toksisitas Subkronis: Analisis Tinggi Sel Epitel Folikel, Luas Koloid Folikel, dan Persentase Kerusakan Sel Epitel Folikel Tiroid

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kedokteran

Abstract

Kulit bawang merah (Allium cepa L.) merupakan limbah hasil pertanian yang kaya akan kuersetin, suatu flavonoid yang diketahui berperan sebagai pengganggu fungsi tiroid (thyroid disruptor) melalui penghambatan enzim deiodinase tipe 1 (D1), enzim thyroid peroxidase (TPO), penurunan ekspresi beberapa gen yang berhubungan dengan fungsi tiroid, serta mengganggu aksis hipotalamus–hipofisis–tiroid. Meskipun sering ditemukan dalam pola makan sehari-hari maupun suplemen, dampak histopatologis dari paparan jangka panjang ekstrak kulit bawang merah (EKBM) terhadap mikroanatomi kelenjar tiroid masih belum banyak dipahami. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek subkronis EKBM terhadap histopatologi kelenjar tiroid, khususnya dengan menilai tinggi epitel folikel, luas koloid (luas lumen), serta persentase kerusakan sel epitel pada tikus Wistar. Penelitian eksperimental murni dengan rancangan post-test only control group dilakukan menggunakan 24 ekor tikus Wistar yang dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok kontrol menerima DMSO, sedangkan tiga kelompok perlakuan (P1, P2, dan P3) diberikan EKBM secara oral selama 28 hari dengan dosis berturut-turut sebesar 731, 1462, dan 2924 mg/kgBB. Kandungan kuersetin dalam ekstrak distandarisasi menggunakan metode High-Performance Liquid Chromatography (HPLC). Pengamatan histopatologi dilakukan pada preparat yang diwarnai dengan Hematoksilin-Eosin (HE) menggunakan perangkat lunak pencitraan digital. Hasil analisis HPLC mengonfirmasi bahwa konsentrasi kuersetin dalam ekstrak adalah sebesar 13% (130 mg/g ekstrak). Analisis One-Way ANOVA menunjukkan adanya peningkatan yang bermakna pada tinggi epitel folikel (p < 0,05) serta penurunan yang bermakna pada luas koloid (p < 0,05) pada seluruh kelompok perlakuan. Sebaliknya, uji Kruskal-Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna pada persentase kerusakan sel epitel (p > 0,05). Temuan ini mengindikasikan adanya respons adaptif fungsional terhadap stimulasi hormonal, bukan cedera sitotoksik secara langsung.

Description

Approved by Teddy

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By