Pengaruh Tipe Dilatasi pada Respon Struktur terhadap Gempa
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknik
Abstract
Bentuk bangunan yang tidak beraturan semakin umum ditemui akibat
keterbatasan lahan, tingginya harga tanah, dan kebutuhan fungsional. Namun,
bangunan dengan denah asimetris lebih rentan terhadap kerusakan akibat gempa
karena distribusi beban yang tidak merata, yang mempengaruhi perilaku struktur.
Gempa bumi yang diakibatkan oleh pergerakan lempeng dapat menyebabkan
deformasi struktural, terutama pada bangunan dengan ketidakberaturan horizontal
maupun vertikal. Salah satu dampak serius adalah terjadinya puntir, yang dapat
mengakibatkan kerusakan signifikan pada struktur bangunan. Untuk
meminimalkan risiko ini, salah satu solusi yang diterapkan adalah sistem dilatasi,
yaitu pemisahan struktur berdasarkan sistem yang berbeda, seperti dilatasi 2 kolom
atau dilatasi balok kantilever.
Gedung Rumah Sakit UPT Vertikal Surabaya adalah salah satu contoh
bangunan dengan denah asimetris yang menggunakan sistem dilatasi 2 kolom
dalam kondisi existing. Penggunaan jenis dilatasi yang berbeda dapat
mempengaruhi respons struktur terhadap gempa, seperti perpindahan, simpangan
antar lantai, dan koefisien stabilitas bangunan. Oleh karena itu, penelitian
diperlukan untuk memahami pengaruh tipe dilatasi terhadap respons struktur
selama gempa, sehingga dapat mendukung desain bangunan yang lebih aman dan
tahan terhadap gempa.
Penelitian ini akan membagi gedung menjadi 3 kondisi yaitu kondisi dilatasi
2 kolom (tipe 1), dilatasi balok kantilever (tipe 2), dan tanpa dilatasi. Masing –
masing kondisi gedung akan dibuat permodelan 3D menggunakan aplikasi bantu
ETABS V21. Setelah dilakukan permodelan, maka bisa dilakukan input beban
gravitasi dan gempa serta dilakukan analisis untuk mengetahui respon struktur dari
masing-masing kondisi gedung.
Dari hasil analisis didapatkan bahwa pada kondisi dilatasi tipe 1,
perpindahan yang terjadi lebih kecil dari dilatasi tipe 2 dan tanpa dilatasi yaitu
sebesar 37,82 mm untuk arah X pada lantai 12 dan 52,83 mm untuk arah Y pada
gedung B. Untuk nilai dari simpangan yang terjadi pada gedung kondisi dilatasi
tipe 1 juga lebih kecil yaitu 2,11 mm pada lantai 7 gedung B. Setelah didapatkan
nilai simpangan yang terjadi, maka selanjutnya dihitung koefisien stabilitas
bangunan dan didapatkan hasil dari ketiga kondisi gedung tersebut memenuhi batas
kestabilan gedung yaitu tidak lebih dari 0,091.
Setelah dilakukan perhitungan simpangan dan koefisien stabilitas gedung,
maka langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan jarak dilatasi minimal.
Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, jarak dilatasi yang dibutuhkan telah
sesuai dengan rencana, yaitu 100 mm. Pada dilatasi tipe 1, jarak yang diperlukan
lebih kecil, yaitu 43,40 mm antara gedung D dan CD, 38,03 mm antara gedung CD
dan C, 40,98 mm antara gedung C dan CB, serta 37,81 mm antara gedung B dan
CB. Hal ini terjadi karena pada kondisi dilatasi tipe 1, simpangan inelastis di tepi
bangunan yang berdekatan lebih kecil dibandingkan dengan kondisi dilatasi
lainnya.
Description
Reupload file repository 27 Maret 2026_Maya
