Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Pneumonia dengan Metode ATC/DDD di RSUD Dr. H. Koesnadi Bondowoso
| dc.contributor.author | Ihsan Kamil Shiddiqien | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-20T02:36:45Z | |
| dc.date.issued | 2025-01-21 | |
| dc.description | Reupload file repository 20 Februari 2026_Yudi | |
| dc.description.abstract | Pneumonia merupakan peradangan akut pada jaringan paru-paru (parenkim paru) yang dapat dipicu oleh berbagai mikroorganisme penyebab infeksi, seperti bakteri, virus, jamur, maupun parasit. Umumnya penyebab pneumonia adalah bakteri, sehingga terapi utama yang digunakan adalah antibiotik. Penggunaan antibiotik saat ini memerlukan perhatian khusus dari para tenaga kesehatan. Hal ini penting karena pemakaian antibiotik yang tidak tepat, dapat menyebabkan antibiotik tidak lagi mampu menghentikan pertumbuhan bakteri, walaupun diberikan dalam dosis normal, atau biasa disebut resistensi antibiotik. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan adanya suatu evaluasi untuk mengetahui profil dan gambaran pemakaian antibiotik pada pasien pnuemonia rawat inap. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien, profil penggunaan antibiotik dan gambaran penggunaan antibiotik setelah dievaluasi menggunakan ATC/DDD dan DU 90% pada pasien pneumonia rawat inap di RSUD Dr. H. Koesnadi Kabupaten Bondowoso. Penelitian ini merupakan penelitian observasional secara deskriptif. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan pengambilan data rekam medis pasien dan dilakukan secara retrospektif. Hasil penelitian pada karakteristik pasien pneumonia dewasa berdasarkan jenis kelamin didominasi oleh laki-laki dengan rentang usia yang terbanyak adalah usia lebih dari 65 tahun dan status pembayaran yang paling banyak digunakan adalah BPJS PBI. Berdasarkan 87 total antibiotik yang diberikan pasien, sefuroksim adalah antibiotik yang paling sering digunakan. Hasil evaluasi antibiotik dengan metode ATC/DDD diperoleh nilai sebesar 68,89 DDD/100 bed days. Jenis antibiotik yang memiliki nilai tertinggi adalah sefuroksim dengan nilai sebesar 29,92 DDD/100 bed days. Sedangkan jenis antibiotik yang memiliki nilai DDD/100 bed days terendah adalah siprofloksasin yaitu 0,1 DDD/100 bed days. Berdasarkan data perhitungan DU 90%, antibiotik yang termasuk dalam segmen 90% yaitu sefuroksim, amoksisilin-asam klavulanat dan levofloksasin. Sedangkan antibiotik yang masuk dalam segmen 10 % adalah moksifloksasin, seftriakson, sefotaksim dan siprofloksasin. | |
| dc.description.sponsorship | apt. Ika Norcahyanti, S.Farm.,M.Sc. - Dr. apt. Afifah Machlaurin., S.Farm, M.Sc | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/3833 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Farmasi | |
| dc.subject | Penggunaan Antibiotik | |
| dc.subject | Pasien Pneumonia | |
| dc.subject | Metode ATC/DDD | |
| dc.title | Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Pneumonia dengan Metode ATC/DDD di RSUD Dr. H. Koesnadi Bondowoso | |
| dc.type | Other |
