Hubungan Sosiodemografi dengan Tingkat Kompetensi Budaya Mahasiswa Profesi Keperawatan, Universitas Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keperawatan

Abstract

Dalam dunia keperawatan, pemahaman terhadap budaya merupakan aspek penting yang harus dimiliki oleh perawat. Kompetensi budaya, menurut Penelitian Helmina (2024) dan Riendrasiwi (2025), menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang berbasis budaya dan mampu memenuhi kebutuhan pasien dari berbagai latar belakang budaya. Namun, temuan dari berbagai studi menunjukkan bahwa tingkat kompetensi budaya di kalangan mahasiswa keperawatan masih berada dalam kategori yang cukup rendah, hal ini menimbulkan kekhawatiran, bahwa kurangnya pelatihan dan pengalaman praktis dalam aspek ini dapat menghambat keberhasilan perawatan yang sensitif terhadap budaya diri pasien yang latar belakangnya berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah karakteristik sosiodemografi mahasiswa keperawatan berhubungan dengan tingkat kompetensi budaya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Sampel penelitian adalah seluruh mahasiswa aktif profesi keperawatan di Universitas Jember, berjumlah 192 orang yang telah memenuhi kriteria. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa mayoritas mahasiswa profesi keperawatan Universitas Jember telah mencapai tingkat kompetensi budaya yang baik, di mana mereka mampu mengintegrasikan pengetahuan budaya ke dalam proses asuhan keperawatan sesuai dengan tahapan model Transcultural Nursing dari Leininger. Temuan ini mendukung asumsi bahwa lingkungan pendidikan yang multietnis serta kurikulum yang mengintegrasikan aspek transkultural telah memberikan bekal yang memadai bagi mahasiswa untuk berkembang secara bertahap dalam kompetensi budaya yang dimiliki oleh individu. Secara menyeluruh, penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor sosiodemografi (usia, jenis kelamin, dan suku) dengan total skor tingkat kompetensi budaya mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan profesi mampu melakukan standardisasi kemampuan mahasiswa terlepas dari latar belakang primordialnya. Namun, melalui analisis yang lebih mendalam pada setiap indikator pernyataan, ditemukan korelasi spesifik yang bermakna: faktor usia memiliki hubungan signifikan dengan indikator pengetahuan (cultural knowledge) dan keinginan budaya (cultural desire), yang mencerminkan kematangan kognitif dan motivasi intrinsik seiring bertambahnya usia. Selain itu, faktor jenis kelamin terbukti berhubungan signifikan dengan indikator pertemuan budaya (cultural encounters), yang menunjukkan adanya perbedaan pola interaksi klinis antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Berdasarkan temuan tersebut, penting bagi institusi pendidikan untuk terus memperkuat program pelatihan transkultural dan mengintegrasikan aspek budaya secara lebih mendalam. Fokus pengembangan dapat diarahkan pada penguatan selfefficacy dan intensitas pertemuan klinis agar kompetensi mahasiswa di seluruh dimensi semakin meningkat, sehingga mahasiswa mampu memenuhi standar pelayanan kesehatan yang optimal dan peka budaya bagi masyarakat luas.

Description

Reuploud file repositori 20 Mei 2026_Firli

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By