“Cerita Rakyat Putri Seco Masyarakat Dusun Suco Kecamatan Pasrujambe Kabupaten Lumajang
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Cerita rakyat merupakan cerita yang tercipta dan berkembang di masyarakat.
Penyerbarannya dituturkan dari generasi ke generasi selanjutnya melalui lisan.
Karena penyebarannya bersifat kelisanan, cerita rakyat kerap mengalami perubahan
sehingga memiliki versi cerita yang berbeda-beda. Salah satu cerita rakyat yang
berkembang di Kabupaten Lumajang adalah cerita rakyat Putri Seco masyarakat
Dusun Suco, Desa Pasrujambe, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang.
Dalam cerita rakyat dapat ditemukan nilai-nilai maupun ajaran yang menarik untuk
dipelajari. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan wujud cerita rakyat, nilai
budaya yang terkandung di dalamnya, makna simbolik cerita, fungsi cerita terhadap
masyarakat, dan pemanfaatannya sebagai materi pembelajaran sastra.
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan
etnografi. Lokasi penelitian dilakukan di masyarakat Dusun Suco, Kecamatan
Pasrujambe, Kabupaten Lumajang. Data penelitian ini berupa tuturan lisan dari
informan yang mengetahui mengenai cerita rakyat Putri Seco masyarakat Dusun
Suco. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara
etnografis, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teori Spradley
yang meliputi analisis domain, taksonomi, komponen, dan tema budaya.
Hasil penelitian ini menunjukkan wujud cerita rakyat Putri Seco masyarakat
Dusun Suco berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat. Cerita rakyat Putri
Seco ini mengisahkan penculikan seorang putri bernama Putri Seco yang dibawa
secara paksa oleh Maling Aguna. Motif penculikan ini dikarenakan sang putri tidak
mau menerima tawaran Maling Aguna unuk menikah dengannya. Dengan
kekuatannya Maling Aguna membawa lari sang putri ke daerah timur Tengger yang
berada tepat di bawah kaki Gunung Semeru. Pengejaran dilakukan oleh utusan
kerajaan Majapahit bernama Mbah Seri untuk menyelamatkan sang putri.Perebutan diwarnai dengan pertarungan antara Maling Aguna dan Mbah Seri yang
berakhir dengan kemenangan Mbah Seri. Saat hendak dibawa kembali ke
kediamannya, Putri Seco berinisiatif untuk tinggal dan mengelola tempat dimana
saat ini dia diculik karena tempat tersebut tidak berpenghuni tetapi memiliki potensi
dalam beberapa bidang. Hingga saat ini tempat dimana putri tersebut menetap telah
berkembang dari segi pertanian, perkebunan, dan wisatanya. Serta keturunan asli
dari Putri Seco saat ini adalah penduduk asli atau masyarakat Dusun Suco,
Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang.
Nilai budaya yang terdapat dalam cerita Putri Seco yaitu nilai religius berupa
keteringatan kepada Tuhan, nilai sosial berupa kerukunan, nilai etika berupa rela
berkorban dan bijaksana. Makna simbolik yang ditemukan yakni Maling Aguno
berkmakna simbol ketamakan, keris dan pedang bermakna simbol kekuasaan, arah
timur bermakna simbol awal kehidupan. Cerita Putri Seco memiliki fungsi sebagai
penamaan tempat, sebagai pedoman hidup, dan sebagai saran edukasi. Cerita Putri
Seco juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu materi pembelajaran sastra Bahasa
Indonesia di SMA kelas X dengan berorientasikan Kurikulum Merdeka.
Saran-saran dari peneliti dalam penelitian ini, yaitu (1) penelitian ini bersifat
kompleks sehingga selanjutnya pembaca dapat menuangkan cerita rakyat Putri
Seco ke dalam industri kreatif maupun hal lainnya, (2) penelitian ini diharapkan
dapat menjadi salah satu sumber bacaan sebagai penambah wawasan kebudayaan
bagi semua kalangan, dan (3) penelitian ini masih mengungkapkan hal mendasar
mengenai cerita Putri Seco masyarakat Dusun Suco sehingga diharapkan nantinya
ada penelitian lanjutan untuk melengkapi kekurangan-kekurangan penelitian ini.
Description
Reupload file repository 20 februari 2026_agus/feren
