Hubungan Fatigue dengan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSD dr. Soebandi Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Gagal ginjal kronik adalah suatu penyakit yang terjadi karena adanya masalah
pada fungsi ginjal yang sifatnya progresif dan tidak dapat diubah sehingga
membutuhkan terapi pengganti ginjal berupa terapi hemodialisis. Hemodialisis
adalah terapi yang berfungsi untuk memfiltrasi zat terlarut darah. Pasien gagal
ginjal kronik umumnya akan merasakan beberapa gejala atau efek samping dari
terapi yang dijalaninya. Salah satu dampak yang sering dirasakan dari terapi
hemodialisis adalah kelelahan atau fatigue.
Kelelahan pada pasien yang terus berkelanjutan atau dalam jangka waktu
yang lama dapat mempengaruhi keadaan fisik, mental, hubungan sosial dan
lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat membatasi peran pasien dalam kehidupannya
sehingga keberlangsungan hidup menurun dan kualitas hidup pasien menurun.
Kualitas hidup terdiri dari empat dimensi yang mencakup kesehatan fisik,
psikologis, sosial, dan lingkungan. Kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik
sendiri cenderung menurun karena faktor dari penyakit yang dideritanya, namun
juga dapat diperparah dengan adanya gejala dan efek samping yang ditimbulkan
dari proses perawatan dan terapi hemodialisis seperti fatigue. Oleh karena itu,
penilaian terhadap tingkat fatigue perlu diperhatikan lebih lanjut untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien.
Penelitian ini dilakukan di unit hemodialisis RSD dr. Soebandi Kabupaten
Jember, Jawa Timur. Teknik sampling penelitian menggunakan consecutive
sampling. Jumlah responden sebanyak 93 responden dengan perhitungan sampel
menggunakan G*Power dan menambahkan 10% untuk dropout. Data primer dari
penelitian ini didapatkan langsung dari responden melalui kuesioner FACIT Fatigue Scale untuk mengukur fatigue dan WHOQOL-BREF untuk mengukur
kualitas hidup pasien, serta data karakteristik responden. Data sekunder peneliti
diperoleh dari data pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSD
dr. Soebandi. Kuesioner FACIT- Fatigue Scale memiliki 13 pertanyaan dengan
skala likert 0-4 pada masing – masing pertanyaan. Sedangkan WHOQOL-BREFterdiri dari 26 pertanyaan dengan setiap pertanyaan memiliki skor 1 sampai 5.
Setelah itu, dilakukan metode analisis univariat untuk melihat data karakteristik
responden, fatigue responden, dan kualitas hidup responden. Metode bivariat
dilakukan dengan uji Kendall Tau C untuk mengetahui hubungan fatigue dengan
kualitas hidup.
Hasil penelitian, distribusi karakteristik responden berdasarkan usia yaitu
mayoritas dalam rentang usia 46 – 55 tahun (Lansia Awal) yaitu sebanyak 35
responden (37,6%). Berdasarkan jenis kelamin pasien hemodialisis paling banyak
adalah perempuan yaitu sebanyak 56 responden (60,2%). Kemudian untuk
karakteristik Pendidikan terakhir paling banyak adalah SD sebanyak 33 responden
(35,5%). Lalu dilihat dari pekerjaan paling banyak mereka tidak bekerja sebanyak
72 responden (77,4%). Berdasarkan lama menjalani hemodialisis mayoritas sudah
> 2 tahun sebanyak 50 responden (53,8%). Hasil penelitian mengenai fatigue
pasien didapatkan hasil paling banyak memiliki tingkat fatigue yang ringan yaitu
sebanyak 51 responden (54,8%). Sedangkan kualitas hidup pasien didapatkan
hasil paling banyak memiliki kualitas hidup yang sedang yaitu sebanyak 59
responden (63,4%). Hasil dari analisis bivariat didapatkan hasil nilai p value 0,000
maka Ha diterima yang berarti terdapat hubungan antara fatigue dengan kualitas
hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSD dr. Soebandi
Jember. Kemudian nilai koefisien korelasi -0,418 yang menunjukkan bahwa
kekuatan hubungan antara kedua variabel sedang dengan arah hubungan negatif.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan
antara fatigue dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik di RSD dr.
Soebandi Jember. Fatigue merupakan keterbatasan fisik yang mempengaruhi
kualitas hidup pasien hemodialisis. Pasien yang mengalami fatigue akan
menyebabkan terjadinya perubahan peran dalam kehidupannya. Adanya
perubahan peran ini dapat mengganggu kesehatan psikologis dan hubungan
sosialnya yang berdampak pada kualitas hidup pasien menurun. Hal ini
diperlukannya peranan perawat dalam mengkaji lebih dalam mengenai gejala
fatigue yang dirasakan sehingga dapat memberikan intervensi yang efektif untuk
mengatasi fatigue sehingga kualitas hidup pasien dapat membaik
Description
Reupload file repository 11 februari 2026_Arif/Halima
