Analisis Wacana Kritis Pidato Presiden Joko Widodo pada Sidang Tahunan MPR RI Tahun 2023
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Pidato kenegaraan disampaikan oleh presiden dalamacara Sidang Tahunan
MPR RI yang dilaksanakan pada setiap tanggal 14-16 Agustus dalam rangka
memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dan merupakan tradisi
ketatanegaraan untuk memfasilitasi lembaga negara menyampaikan laporan
kinerjanya selama satu tahun kepada masyarakat. Penelitian ini mengkaji pidato
kenegaraan Presiden Joko Widodo pada sidang tahunan MPR dan Sidang
Bersama DPR RI dan DPD RI pada 16 Agustus 2023 di Gedung Nusantara MPR
RI/DPR RI/ DPD RI. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis wacana
kritis untuk mengurai kepentingan-kepentingan di balik teks pidato yang
disampaikan oleh Presiden Joko Widodo kepada khalayak masyarakat Indonesia.
Analisis Wacana Kritis (AWK) membantu memahami bahasa dalam
penggunaannya. Bahasa dipahami bukan hanya sekedar alat komunikasi,
tetapimenyimpan ideologi tertentu sebagai instrument untuk menerapkan strategi
kekuasaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis wacana kritis model
Norman Fairclough yang memiliki tiga dimensi analisis, yaitu:(1) analisis dimensi
teks, (2) analisis praktik wacana (discourse practice), dan (3) praktik sosiokultural
(sosiocultural practice). AWK model Faircloughberangkat dari penggabungan
kajian linguistik dengan pemikiran sosial politik yang relevan dalam
pengembangan teori sosial dan bahasa. Entitas wacana dipandang secara simultan
sebagai teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Tujuan penelitian ini sebagai
berikut: (1) mendeskripsikan dimensi teks pidato kenegaraan Presiden Joko
Widodo pada sidang tahunana MPR-RI 2023, (2) mendeskripsikan praktik wacana
dan praktik sosiokultural pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo pada sidang
tahunana MPR-RI 2023 (3) mendeskripsikan ideologi yang termuat dalam pidato
kenegaraan Presiden Joko Widodo pada sidang tahunan MPR-RI 2023. Penelitian ini menggunkan metode penelitian kualitatif, yaitu proses
penelitian yang berisi tahapan penelitian yang menyajikan data deskriptif, baik
dalam bentuk lisan maupun tulisan dari subjek individu atau kelompok dan
fenomena yang sedang diteliti. Secara metodologis, penelitian ini mengacu pada
analisis paradigma kritis yang mendasarkan diri pada interpretasi teks. Penelitian
paradigma kritis dengan metode kualitatif ini berada pada penafsiran teks secara
mendalam demi menemukan makna yang ada di balik teks. Data penelitian ini
adalah wacana pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo pada sidang tahunan
MPR RI 2023 yang diambil dari video dalam kanal Youtube. Aspek kebahasaan
dan konteks-konteks yang memiliki kaitan menjadi fokus dalam analisis wacana
kritis ini. Konteks berkaitan dengan aspek bahasa yang dipakai untuk tujuan dan
praktik tertentu. Praktik bahasa dalam hal ini berkaitan dengan aspek sejarah,
budaya, dan politik yang melatarbelakangi wacana pidato tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan wacana pidato kenegaraan Presiden Jokowi
pada sidang tahunan MPR RI 2023 dalam tataran teks dibagi pada lima
pembahasan, yaitu representasi dalam penggunaan kosa kata dan tata bahasa,
representasi dalam koherensi kalimat, representasi dalam penonjolan kalimat,
relasi, dan identitas. Pada pembahasan penggunaan kosa kata, peneliti
menemukan dan menganalisis penggunaan kata ‘saya’, kata ‘kami’, frasa ‘tahun
politik’, dan kata ‘Indonesia’.Kata persona ‘saya’ digunakan (1) sebagai
representasi kepala negara yang mewakili keseluruhan institusi pemerintah
republic Indonesia, (2) sebagai representasi Jokowi secara personal dan pribadi,
dan (3) representasi presiden secara institusional. Kata ‘kita’ digunakan sebagai
(1) representasi kolektif antara Jokowi dan masyarakat, (2) representasi kolektif
antara Jokowi dan semua komponen pemerintah, (3) representasi kolektivitas
seluruh komponen pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Kata ‘Indonesia’
digunakan sebagai (1) representasi pemerintah di masa Jokowi, (2) representasi
negara yang berdaulat, dan (3) representasi negara yang berasas Pancasila,
demokrasi, dan heterogen. Pada pembahasan tatabahasa, peneliti menemukan,
mengklasifikasikan dan menganalisis penggunaan tatabahasa dalam bentuk
tindakan, peristiwa, keadaan, dan proses mental.Pada analisisrepresentasi dalam koherensi kalimat peneliti menemukan beberapa temuan yang diperinci pada tiga
pembahasan yaitu: 1) elaborasi, ditemukan data dengan penggunaankata hubung
‘yang’, 2) perpanjangan, pada bentuk ini yang berupa ‘tambahan’ ditemukan dari
data yang menggunakan kata hubung “dan”, serta ditemukan pula bentuk
perpanjangan yang berupa ‘kontras’ pada data yang menggunakan kata hubung
“tetapi” dan “meskipun”, 3) mempertinggi, ditemukan data yang menggunakan
konjungsi “karena” dan konjungsi “sehingga”. Analisis representasi dalam
penonjolan kalimat difokuskan pada penonjolan dalam pidato kenegaraan
Presiden Jokowi. Peneliti menemukan dua pola penonjolan, yaitu: (1) penonjolan
dengan mengubah nada suara, baik lebih tinggi maupun lebih rendah dari pada
cara pengucapan kalimat yang lain; dan (2) penonjolan dengan merepetisi satu
kata, satu frasa, atau satu klausa.
Pada pembahasan relasi, terdapat konteks dari pidato kenegaraan Presiden
Jokowi, sehingga dapat dipahami bahwa pidato tersebut bersifat formal, sehingga
dapat disaksikan dan disimak oleh semua hadirin serta masyarakat Indonesia
secara umum. Target dari pidato kenegaraan presiden tersebut tidak hanya tamu
undangan yang hadir dalam rapat paripurna, tetapi masyarakat Indonesia secara
luas yang menyaksikan melalui media elektronik. Pada persoalan identitas,
identitas Jokowi sebagai pemimpin pluralis, sebagai pemimpin yang netral pada
pemilu mendatang, sebagai pemimpin yang rendah hati, legowo, dan memiliki
perhatian pada moralitas publik, sebagai seorang pemimpin yang religius, dan
sebagai pemimpin yang mencintai adat-istiadat serta budaya lokal.
Pada subbab praktik wacana, teks pidato kenegaraan dikonstruksi melalui
suatu praktik diskursus yang akan menentukan bagaimana teks tersebut
diproduksi. Melihat pidato kenegaraan Presiden Jokowi pada sidang tahunan MPR
RI 2023, sulit dipastikan apakah produksi pidato tersebut ditulis langsung oleh
presiden atau disusun oleh tim presiden. Terlepas dari hal tersebut, teks pidato
presiden Jokowi tidak terlepas dari latar belakang produksi teks pidato kenegaraan
yang berfungsi sebagai penyampai visi-misi, laporan kinerja pemerintah selama
satu tahaun, dan harapan ke depan yang ditulis dengan banyak pertimbangan dan
persiapan, sehingga pidato tersebut tersusun dengan sangat rapi dan sistematis dan dapat dicerna dengan mudah oleh para komunikan. Di samping adanya teks yang
sudah disediakan, Jokowi juga melakukan improvisasi di sebagian pembahasan
yang disampaikan. Hal tersebut terlihat dari sebagian isi pidato Jokowi yang tidak
menggunakan bahasa formal dan resmi, tetapi menggunakan bahasa sehari-hari.
Pada subbab praktik sosiokultural, hasil analisis diperinci pada tiga level,
yaitu situasional, institusional, dan sosial. Pada level situasional, pidato Jokowi
merupakan respons dan negosiasi terhadap dua situasi yang menjadi latar
belakang pidato, yaitu situasi internal (Indonesia) dan situasi eksternal
(internasional). Pada level institusional, terdapat konteks institusional yang
melatarbelakangi pidato kenegaraan Presiden Jokowi, yaitu acara sidang tahunan
MPR RI yang merupakan tradisi ketatanegaraan untuk memfasilitasi lembaga
negara dalam menyampaikan laporan kinerjanya selama satu tahun kepada
masyarakat, dan merupakan perayaan HUT Indonesia. Pada level sosial, peneliti
menemukan bagaimana teknologi informasi dan media sosial hari ini telah
mempengaruhi ruang kebebasan berpendapat dan bereskpresi sebagai Hak Asasi
Manusia yang dilindungi oleh undang-undang. Selain itu, peneliti juga membahas
bagian dari pidato Jokowi yang merespons kebebasan berekspresi dan
berpendapat yang banyak disalahgunakan saat ini dalam konteks penggunaan
teknologi informasi yang berkembang sangat cepat dan media sosial yang menjadi
ruang sosial tanpa batas. Peneliti juga menelaah ideologi yang terepresentasi
melalui pidato Jokowi. Pada bab ideologi tersebut, pidato kenegaraan yang
disampaikan Jokowi pada sidang tahunan MPR RI 2023 terindentifikasi adanya
nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila, nilai-nilai
pluralisme dan toleransi, serta adanya “kemiripan” wacana Jokowi dalam
pidatonya dengan hegemoni rezim neoliberalisme dan orientasi pasar bebas.
Pada subbab implikasi praktis, peneliti menawarkan suatu cara pandang
dan cara kerja secara kebudayaan dalam konsep kapabilitas intelektual, emosional,
dan spiritual yang beroreintasi pada harkat kemanusiaan. Cara pandang
kebudayaan adalah melihat manusia secara kemanusiaan, sehingga orientasinya
adalah harkat kemanusiaan. Hal tersebut berbeda dengan cara pandang ekonomi
industri yang melihat manusia secara fungsional sebagai komoditas sekaligus konsumen dan pasar. Sedangkan cara kerja berdasarkan kebudayaan adalah
pemilihan kebijakan-kebijakan dalam mengelola negara dengan mempriotitaskan
kemajuan intelektual, emosional, dan spiritual masyarakat. Usaha untuk
menyeimbangkan ketiga unsur tersebut akan melahirkan suatu identitas
kebangsaan yang saat ini tidak tentu ke mana arahnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan
sinergisitas antargolongan, baik pemerintah, para intelektual, pemuka agama, para
budayawan, dan seluruh komponen bangsa dalam merumuskan ulang pandangan
dan arah ke depan yang akan ditempuh demi kesejahteraan sosial untuk kemudian
direalisasikan secara jujur dan kolektif.
Description
Reupload file repositori 13 februari 2026_PKL Fani/Firli
