Konstruksi Pengetahuan Early Warning System (EWS) pada Buruh Perempuan Perkebunan dalam Menghadapi Erupsi Gunung Raung
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Indonesia menjadi salah satu negara dengan tingkat kerentanan tinggi
terhadap bencana alam, termasuk bencana erupsi gunung api, karena letaknya
berada di wilayah cincin api pasifik. Sebagian besar area perkebunan di Indonesia
berada di kaki gunung api, sehingga banyak masyarakat terutama perempuan
bekerja di wilayah rawan bencana. Untuk mengurangi risiko bencana, dibutuhkan
sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) yang dapat
meminimalkan kerugian dan memberikan kesempatan untuk melakukan
penyelamatan dini. Di Dusun Bejong, Kabupaten Banyuwangi, terdapat
perkebunan besar yang dikelola oleh PT. Tirta Harapan Bayu Kidul yang berada di
kaki Gunung Raung. Pengoperasian perkebunan ini melibatkan masyarakat lokal,
khususnya perempuan sebagai buruh. Pengetahuan terkait EWS menjadi hal
penting bagi mereka dalam menghadapi ancaman bencana erupsi Gunung Raung di
area perkebunan.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana konstruksi
pengetahuan EWS pada buruh perempuan perkebunan dalam menghadapi erupsi
Gunung Raung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif
dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui
pengamatan, wawancara, serta dokumen dan audiovisual. Keabsahan data diperkuat
dengan triangulasi sumber, triangulasi teknik dan triangulasi waktu. Kemudian
dianalisis dengan menggunakan teori konstruksi sosial oleh Peter L Berger dan
Thomas Luckmann.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, proses dialektis konstruksi
pengetahuan EWS pada buruh perempuan dalam menghadapi erupsi GunungRaung melewati proses yang kompleks. Pada teori konstruksi sosial, proses ini
memiliki tiga konsep dialektis,yang pertama proses eksternalisasi melalui relasi
kerja, buruh perempuan menerima arahan dari mandor dan membentuk kebiasaan
sosial dalam merespons bencana erupsi, yang terekspresikan melalui tindakan
berulang berdasarkan pengalaman kolektif. Proses kedua obyektivasi, yaitu proses
ketika informasi yang disampaikan oleh mandor dan sesama buruh serta simbol
seperti kentongan dianggap sah dan mengikat secara sosial oleh buruh buruh
perempuan. Serta proses internalisasi, yaitu ketika pengetahuan yang diterima
buruh perempuan diadopsi menjadi realitas subjektif, dan dijadikan pedoman
mereka dalam bertindak, sehingga keputusan buruh perempuan ketika terjadi
bencana erupsi adalah bersikap tenang dan tetap bekerja sambil menunggu instruksi
evakuasi dari mandor.
Description
Reupload file repository 3 Februari 2026_Arif/Halima
