Histopatologi Tikus Putih (Rattus Norvegicus) dengan Injeksi Bakteriofag Rekombinan Berbasis Sistem Crispr/CAS9
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Keracunan makanan akibat infeksi Salmonella enterica merupakan
permasalahan kesehatan masyarakat yang serius dan berpotensi menyebabkan
kematian, terutama pada individu dengan imunitas rendah. Dalam upaya
penanganannya, penggunaan antibiotik secara masif dan tidak terkontrol
berkontribusi terhadap peningkatan resistensi antibiotik atau multidrug resistance
(MDR). Salah satu pendekatan alternatif yang tengah dikembangkan untuk
mengatasi hal ini adalah pemanfaatan bakteriofag (fag), yaitu virus yang secara
spesifik menyerang dan membunuh bakteri tanpa memengaruhi bakteri
menguntungkan lainnya. Dalam penelitian ini digunakan bakteriofag rekombinan
berbasis sistem CRISPR/Cas9 yang dirancang untuk menargetkan Salmonella
enterica serotipe Salmonella typhimurium.
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perubahan histopatologi
organ hati, ginjal, dan limpa pada tikus putih (Rattus norvegicus) pasca injeksi
bakteriofag rekombinan berbasis sistem CRISPR/Cas9. Penelitian menggunakan
pendekatan eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor
yang terdiri dari delapan kelompok perlakuan, masing-masing dengan tiga
pengulangan (n = 24) yang meliputi kontrol negatif dengan PBS (K-), infeksi
bakteri (P1), bakteriofag wild-type (P2), bakteriofag rekombinan (P3), pra-infeksi
fag wild-type (P4), pra-infeksi fag rekombinan (P5), pasca-infeksi fag wild-type
(P6), dan pasca-infeksi fag rekombinan (P7).
Tahapan penelitian diawali dengan peremajaan bakteri Salmonella enterica
serotipe Salmonella typhimurium pada media SSA dan propagasi bakteriofag
dengan metode plaque assay pada media LB agar. Titer bakteriofag dihitung
berdasarkan jumlah zona bening yang terbentuk dan dinyatakan dalam satuan
PFU/mL. Bakteriofag rekombinan yang telah dipurifikasi selanjutnya diuji menggunakan spot test untuk memastikan spesifisitas infeksinya terhadap bakteri
target. Injeksi bakteriofag dilakukan secara intraperitoneal dengan volume 0,2 mL
per ekor, disesuaikan dengan masing-masing kelompok perlakuan.
Pengamatan histopatologi dilakukan terhadap organ hati, ginjal, dan limpa.
Sampel organ diambil setelah proses terminasi pada hari ke-28, diproses menjadi
preparat histopatologi, dan diamati dengan mikroskop cahaya IRIS dengan
perbesaran 400x. Penilaian kerusakan jaringan dilakukan melalui metode skoring
berdasarkan persentase kerusakan sel. Analisis statistik dilakukan dengan uji
Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc Mann-Whitney menggunakan
perangkat lunak SPSS 23.0 untuk mengetahui perbedaan signifikan antar kelompok
perlakuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bakteriofag, baik wild-type
maupun rekombinan, memberikan pengaruh terhadap struktur histopatologi hati
dan ginjal, ditandai dengan kerusakan ringan hingga sedang. Kerusakan ini diduga
disebabkan oleh aktivasi imun non-spesifik dan kontaminasi endotoksin
lipopolisakarida (LPS) yang belum sepenuhnya tereliminasi selama proses
pemurnian. Pada organ limpa, meskipun secara statistik tidak signifikan,
pengamatan mikroskopis menunjukkan adanya peningkatan white pulp (WP), yang
mengindikasikan aktivasi sistem imun adaptif tanpa menimbulkan kerusakan
struktural. Kelompok P5 (pra-infeksi fag rekombinan) menunjukkan hasil paling
protektif dengan skor median rendah dan struktur jaringan relatif normal.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa injeksi bakteriofag
rekombinan berbasis sistem CRISPR/Cas9 berpotensi memberikan perlindungan
parsial terhadap jaringan hati dan ginjal, serta aman digunakan terhadap jaringan
limpa. Efektivitas proteksi lebih optimal jika bakteriofag diberikan sebelum infeksi
(profilaksis), dibandingkan setelah infeksi (terapeutik).
Description
Reupload File Repositori 6 Februari 2026_Rudy K/Lia
