Hubungan Hipertensi dengan Derajat Gangguan Pendengaran lansia pada Prolanis di Klinik Rolas Medika Kabupaten Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Kedokteran

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko gangguan pendengaran pada lansia, terutama melalui mekanisme gangguan vaskularisasi koklea. Prevalensi hipertensi yang tinggi di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Jember, serta peningkatan populasi lansia mendorong pentingnya penelitian ini untuk mengevaluasi hubungan antara kedua kondisi tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan derajat gangguan pendengaran lansia pada Prolanis di Klinik Rolas Medika Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel 48 lansia berusia ≥60 tahun yang tergabung dalam Prolanis di Klinik Rolas Medika yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Data dikumpulkan melalui anamnesis, pengukuran tekanan darah, dan pemeriksaan audiometri nada murni. Hipertensi dikategorikan menjadi hipertensi dan non-hipertensi, sedangkan derajat gangguan pendengaran dikategorikan menjadi normal, ringan, sedang, sedang berat, berat, dan sangat berat. Analisis statistik dilakukan dengan uji FisherFreeman-Halton Exact Test. Didapatkan sebanyak 48 responden dan sebagian besar berjenis kelamin perempuan (n=37, 77,1%). Dua puluh sembilan dari 48 responden (60,4%) peserta memiliki hipertensi, dengan mayoritas mengalami gangguan pendengaran derajat ringan (33,3%). Analisis menunjukkan hubungan signifikan antara hipertensi dan derajat gangguan pendengaran (p=0,002). Hasil dari analisis bivariat menggunakan uji Fisher-Freeman-Halton Exact Test menunjukkan hasil nilai p<0,05 yaitu 0,002. Secara teori, hipertensi dapat memengaruhi vaskularisasi koklea melalui peningkatan resistensi perifer dan kekakuan arteri, yang menyebabkan penurunan aliran darah ke telinga dalam. Kondisi ini dapat mengakibatkan hipoksia dan gangguan nutrisi pada sel-sel rambut koklea, yang berujung pada gangguan pendengaran sensorineural. Proses ini diperburuk oleh durasi hipertensi yang panjang dan tekanan darah yang tidak terkontrol. Selain itu, hipertensi juga dapat memicu spasme pembuluh darah, arteriosklerosis, hingga iskemia koklea, yang secara bertahap dapat menyebabkan penurunan fungsi pendengaran, terutama pada lansia. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara hipertensi dengan derajat gangguan pendengaran Lansia pada Prolanis di Klinik Rolas Medika Kabupaten Jember.

Description

upload by Teddy

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By