Asuhan Keperawatan Ansietas pada Pasien (Hipertensi) dengan Terapi Relaksasi Otot Progresif Jacobson di RSUD Bangil Kabupatem Pasuruan
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS KEPERAWATAN
Abstract
Hipertensi didefinisikan sebagai penyakit kardiovaskular kronis yang ditandai
dengan tekanan darah ≥140/90 mmHg, yang sering disertai masalah psikologis
seperti ansietas. Kecemasan dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis dan hormon
stres sehingga meningkatkan tekanan darah, dan memperberat kerja jantung. Oleh
karena itu penanganan hipertensi memerlukan pendekatan farmakologis dan
nonfarmakologis, salah satunya intervensi yang digunakan adalah terapi ROPJ,
yang membantu mengurangi ketegangan otot, menurunkan kecemasan, dan
meningkatkan relaksasi tubuh. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses
asuhan keperawatan ansietas pada pasien hipertensi melalui implementasi terapi
relaksasi otot progresif Jacobson di RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan. Penelitian
menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan.
Partisipan yang terpilih harus memenuhi kriteria inklusi berupa pasien dengan
diagnosis medis hipertensi, skor Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) 14–25,
kesadaran composmentis, serta bersedia mengikuti prosedur melalui lembar
persetujuan. Kriteria eksklusi mencakup pasien dengan riwayat psikosis aktif,
perawatan intensif, atau komplikasi akut yang mengancam nyawa. Pengumpulan
data dilakukan melalui wawancara anamnesis, observasi perilaku dan tanda vital,
pemeriksaan fisik head-to-toe, serta tinjauan dokumentasi klinis. Berdasarkan
pengkajian, partisipan (Tn. A, 30 tahun) mengeluhkan ketegangan pada leher
bagian belakang dan pundak, palpitasi, sulit mengawali tidur, serta kekhawatiran
berlebihan mengenai komplikasi stroke dan tuntutan pekerjaan. Data objektif
menunjukkan tekanan darah 160/100 mmHg, nadi 110x/menit, respirasi 24x/menit,
dan skor HARS 27 yang mengindikasikan ansietas sedang. Implementasi terapi
relaksasi otot progresif Jacobson dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut
dengan durasi 20 menit per sesi. Prosedur diawali dengan penataan lingkungan
x
tenang, posisi duduk nyaman, dan pakaian longgar. Tahapan kerja meliputi latihan
napas dalam tiga kali, dilanjutkan kontraksi dan relaksasi secara berurutan pada
kelompok otot wajah, tangan, bahu, perut, dan kaki, masing-masing diulang tiga
kali, serta diakhiri dengan napas dalam. Pasien juga diberikan edukasi untuk
mempraktikkan teknik ini secara mandiri saat gejala cemas muncul. Setelah tiga
hari intervensi, terdapat perbaikan klinis yang konsisten. Pasien menyatakan
ketegangan otot berkurang, pikiran lebih terkontrol, dan kualitas tidur membaik.
Secara objektif, tekanan darah turun menjadi 130/85 mmHg, frekuensi nadi
menurun menjadi 80x/menit, respirasi stabil 20x/menit, serta skor HARS menurun
drastis menjadi 3 (tidak ada kecemasan). Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa terapi relaksasi otot progresif Jacobson efektif menurunkan tingkat ansietas
dan menstabilkan respons fisiologis pada pasien hipertensi, sehingga layak
dijadikan intervensi keperawatan rutin yang dapat diterapkan baik di fasilitas
kesehatan maupun secara mandiri di rumah.
Description
Finalisasi Repository/HASYIM Agustus 2026
