Analisis Faktor-Faktor Penentu Kapasitas Produksi pada Industri Pengolahan Edamame Crispy (Studi Kasus: Kampung Edamame Jember)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Kampung Edamame merupakan agroindustri di Desa Klompangan, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, yang mengolah edamame segar menjadi produk unggulan edamame crispy. Permintaan produk ini terus meningkat, namun kapasitas produksi harian masih terbatas pada sekitar 60 kg bahan baku melalui tiga siklus penggorengan menggunakan satu unit mesin vacuum frying, sehingga timbul ketidaksesuaian antara kapasitas produksi aktual dengan permintaan pasar yang berisiko memicu inefisiensi operasional atau pemborosan biaya. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan dan analisis faktor-faktor yang memengaruhi kapasitas produksi agar efisiensi pengolahan edamame crispy dapat ditingkatkan secara terukur. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kapasitas produksi edamame crispy di Kampung Edamame, menganalisis hubungan struktural antar-faktor untuk memperoleh struktur hierarki, serta menentukan kombinasi jumlah produksi yang optimal berdasarkan keterbatasan sumber daya. Data primer diperoleh dari observasi, wawancara, dan kuesioner terhadap tiga orang pakar (pimpinan, koordinator produksi, dan bagian pemasaran) yang dipilih secara purposive sampling, sedangkan data sekunder berasal dari data produksi, data permintaan, dan jurnal ilmiah. Analisis data dilakukan dengan mengintegrasikan metode Interpretive Structural Modeling (ISM) untuk memetakan hubungan kausalitas dan menentukan faktor kunci, serta Fuzzy linear programming (FLP) untuk mengoptimalkan alokasi kombinasi jumlah produksi varian kemasan 100 gram (𝑋1) dan 500 gram (𝑋2) dengan mempertimbangkan toleransi sumber daya serta pembatasan permintaan pasar. Hasil identifikasi memperoleh 12 faktor yang memengaruhi kapasitas produksi. Melalui analisis ISM, empat faktor ditetapkan sebagai faktor kunci pada sektor independent (Sektor IV) dengan daya dorong (Driver Power) tertinggi dan ketergantungan (Dependence) terendah, yaitu ketersediaan bahan baku, kualitas bahan baku, kapasitas mesin vacuum frying, dan jumlah tenaga kerja produksi, sedangkan faktor operasional lainnya seperti penjadwalan produksi dan kapasitas produksi harian berada pada sektor dependent. Selanjutnya, keempat faktor kunci tersebut diterjemahkan menjadi fungsi kendala dalam model FLP. Hasil optimasi FLP menghasilkan alokasi produksi optimal sebesar 2.547,03 kemasan ukuran 100 gram dan 360 kemasan ukuran 500 gram atau setara dengan 434,70 kg/bulan, yang mampu memenuhi sekitar 99,93% dari total permintaan pasar (435 kg/bulan) dengan tingkat kepuasan fuzzy (𝜆) sebesar 0,9191 (91,91%). Hasil ini terbukti lebih efektif dan efisien dibandingkan kondisi normal (431,33 kg/bulan) maupun kondisi toleransi penuh (465,55 kg/bulan) tanpa memicu risiko produksi berlebih (overproduction). Berdasarkan hasil tersebut, disusun rekomendasi perbaikan secara bertahap: jangka pendek (0–6 bulan) berupa penjaminan pasokan dan mutu bahan baku melalui kesepakatan tertulis dengan mitra tani, jangka menengah (6–12 bulan) berupa pelaksanaan preventive maintenance rutin mesin vacuum frying serta pengaturan jam kerja tenaga kerja efektif, dan jangka panjang (>12 bulan) berupa evaluasi berkala serta pemanfaatan fleksibilitas kapasitas sebelum melakukan penambahan unit mesin baru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan efisiensi pengolahan edamame crispy di Kampung Edamame perlu diawali dengan penguatan pada keempat faktor kunci di tingkat dasar operasional secara terintegrasi. Penelitian selanjutnya disarankan mengombinasikan metode ISM-FLP dengan simulasi sistem atau metode optimasi dinamis serta memasukkan variabel biaya produksi dan fluktuasi harga bahan baku.
Description
Finalisasi Maya_19 Oktober 2026
