Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Konsumsi Obat Penderita Tuberkulosis sensitif Obat di Puskesmas Kabupaten Jember
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Tuberkulosis sensitif obat (TB-SO) merupakan penyakit menular yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Jember. Keberhasilan pengobatan TB-SO sangat ditentukan oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara teratur dan tuntas. Pengobatan tuberkulosis yang berlangsung dalam jangka waktu panjang sering kali menyebabkan pasien merasa jenuh, mengalami penurunan motivasi, serta menghadapi berbagai efek samping obat yang dapat memengaruhi kepatuhan pengobatan. Dalam kondisi tersebut, dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting yang dapat membantu pasien mempertahankan kepatuhan selama menjalani terapi. Dukungan keluarga dapat diberikan dalam bentuk dukungan emosional, instrumental, informasional, penghargaan, dan jaringan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan konsumsi obat pada penderita tuberkulosis sensitif obat di Puskesmas Kabupaten Jember. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan rancangan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 174 pasien tuberkulosis sensitif obat yang menjalani pengobatan di Puskesmas Ajung, Puskesmas Pakusari, dan Puskesmas Kalisat Kabupaten Jember. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dukungan keluarga berdasarkan teori House dan kuesioner Medication Adherence Report Scale (MARS-5). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki dukungan keluarga kategori supportif sebanyak 113 pasien (64,9%), sedangkan 61 pasien (35,1%) berada pada kategori non-supportif. Tingkat kepatuhan konsumsi obat tinggi ditemukan pada 95 pasien (54,6%), sedangkan 79 pasien (45,4%) memiliki kepatuhan rendah. Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa dari 113 pasien yang memperoleh dukungan keluarga supportif, sebanyak 95 pasien (84,1%) memiliki kepatuhan konsumsi obat tinggi dan 18 pasien (15,9%) memiliki kepatuhan rendah. Sementara itu, seluruh pasien yang memperoleh dukungan keluarga non-supportif (100%) memiliki kepatuhan konsumsi obat rendah. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dengan nilai OR = 4,39 (95% CI: 2,90–6,59), yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan kepatuhan konsumsi obat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien yang memperoleh dukungan keluarga yang baik cenderung memiliki kepatuhan konsumsi obat yang lebih tinggi dibandingkan pasien yang memperoleh dukungan keluarga kurang baik. Dukungan keluarga yang diberikan melalui perhatian, motivasi, pendampingan selama pengobatan, pemberian informasi, serta bantuan dalam memenuhi kebutuhan pasien dapat meningkatkan semangat dan kedisiplinan pasien dalam menjalani terapi hingga selesai. Sebaliknya, kurangnya dukungan keluarga berpotensi menurunkan motivasi pasien dan meningkatkan risiko ketidakpatuhan selama pengobatan. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan konsumsi obat pada penderita tuberkulosis sensitif obat di Puskesmas Kabupaten Jember. Keluarga diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan aktif dalam mendampingi dan memotivasi pasien selama proses pengobatan. Tenaga kesehatan juga perlu melibatkan keluarga dalam kegiatan edukasi dan pendampingan agar keberhasilan pengobatan tuberkulosis dapat lebih optimal.
Description
Validasi dan Finalisasi Repositori File 05 Agustus 2026_Kholif Basri
