Potensi Agen Larvasida Protein Ekstraseluler Protein Serratia marcescens terhadap Culex sp.
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Pentingnya pengendalian vektor nyamuk Culex sp. sebagai upaya pencegahan penyakit filariasis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Hingga saat ini, belum tersedia vaksin filariasis, sementara pemberian obat massal memiliki keterbatasan dalam efektivitas dan penerimaan masyarakat. Oleh karena itu, pengendalian vektor, khususnya pada fase larva, menjadi strategi yang penting. Larvasida diketahui sebagai metode pemutusan siklus hidup vektor pada fase larva. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah pemanfaatan mikrobiota nyamuk, seperti Serratia marcescens, yang diketahui mampu menghasilkan protein ekstraseluler bersifat toksik terhadap larva nyamuk. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk mengkaji efektivitas protein ekstraseluler Serratia marcescens strain 3A2 sebagai agen anti-larvasida terhadap larva Culex sp., dengan tujuan mengetahui pengaruhnya terhadap mortalitas dan perubahan morfologi larva serta manfaatnya sebagai kandidat biolarvasida. Penelitian diawali dengan peremajaan dan karakterisasi bakteri Serratia marcescens strain 3A2 asal midgut Aedes aegypti. Kultur bakteri dilakukan uji aktivitas proteolitik dan produksi protein ekstraseluler, kemudian dipekatkan menggunakan membran ultrafiltrasi MWCO. Ekstrak kasar protein dilakukan analisis profil protein dengan SDS-PAGE dan pengukuran konsentrasi protein metode Bradford. Sampel uji berupa larva Culex sp. instar 1 hingga 4 yang diperoleh melalui proses rearing. Uji larvasida dilakukan dengan membandingkan perlakuan ekstrak kasar protein ekstraseluler Serratia marcescens, kontrol positif (temephos), dan kontrol negatif (air), dengan pengamatan mortalitas larva selama 24 jam serta pengamatan perubahan morfologi larva. Hasil penelitian ini menunjukkan karakteristik morfologi koloni Serratia marcescens yang berwarna merah akibat pigmen prodigiosin serta bentuk sel batang, Gram-negatif. Hasil uji proteolitik menunjukkan bahwa bakteri memiliki aktivitas protease yang tinggi. Profil protein ekstraseluler memperlihatkan dominasi protein dengan berat molekul sekitar 50–55 kDa yang diduga sebagai serralysin. Uji larvasida menunjukkan bahwa protein ekstraseluler Serratia marcescens paling efektif terhadap larva Culex sp. instar 1, dengan mortalitas 100% dalam waktu 9 jam. Mortalitas menurun pada instar 2, sedangkan pada instar 3 dan 4 tidak ditemukan kematian, namun terdapat efek subletal berupa penurunan ukuran tubuh dan gangguan perkembangan larva. Hasil ini menunjukkan bahwa efektivitas protein sangat dipengaruhi oleh stadium perkembangan larva.
Description
Finalisasi_Maya_4 Juni 2026
