Hubungan Antara Faktor Terkait Self Care Dengan Kadar Gula Darah Sewaktu Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 (Studi di Puskesmas Sumbersari, Kabupaten Jember)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang terjadi akibat gangguan sensitivitas insulin dan penurunan produksi insulin
sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah. DM tipe 2 menjadi salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. Data International Diabetes Federation (IDF) tahun 2021 menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan kelima dunia dengan jumlah penderita diabetes mencapai 19,5 juta jiwa. Di Kabupaten Jember, kasus DM meningkat dari 36.988 kasus pada tahun 2023 menjadi 38.947 kasus pada tahun 2024. Tingginya kejadian DM tipe 2 dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, pola makan, aktivitas fisik, obesitas, stres, dan riwayat keluarga. DM tipe 2 yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius sehingga pengendalian kadar gula darah menjadi hal penting. Selain terapi medis, kontrol gula darah juga dipengaruhi oleh perilaku self care pasien, seperti pengaturan pola makan, aktivitas fisik, kepatuhan minum obat, dan pemantauan gula darah. Namun, masih banyak pasien DM tipe 2 yang belum menerapkan self care secara optimal sehingga kadar gula darah cenderung tidak terkontrol. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara praktik self care dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien DM Tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari, Kabupaten Jember.
Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 75 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Diabetes Self-Management Questionnaire-Revised (DSMQ-R) untuk mengukur perilaku self care serta pemeriksaan gula darah sewaktu dan Form Food Frequency (FFQ) untuk melihat frekuensi makan responden. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi 0,05 dan regresi logistik untuk mengetahui aspek self care yang paling berhubungan dengan kadar gula darah sewaktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 45–54 tahun (74,7%), berjenis kelamin perempuan (70,7%), berpendidikan rendah (61,3%), bekerja (58,7%), memiliki status gizi lebih hingga obesitas (70,6%), dan memiliki riwayat keluarga DM (68,0%). Sebanyak 59 responden (78,7%) memiliki praktik self care rendah/buruk dan 60 responden (80,0%) memiliki GDS tidak terkontrol. Terdapat hubungan yang signifikan antara praktik self-care dengan kadar GDS (p<0,001). Berdasarkan analisis setiap aspek self care, hanya aktivitas fisik yang berhubungan signifikan dengan kadar GDS (p=0,001), sedangkan pengaturan pola makan, kepatuhan pengobatan, pemantauan glukosa darah, dan kerja sama dengan tim diabetes tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Frekuensi konsumsi sumber karbohidrat juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kadar GDS (p>0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa aktivitas fisik merupakan aspek self care yang paling dominan berhubungan dengan kadar GDS setelah dikontrol oleh pengaturan pola makan (p=0,006; OR=9,392; 95% CI=1,915–46,072). Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara praktik self care dengan kadar GDS pada pasien DM tipe 2. Aktivitas fisik merupakan aspek self care yang paling dominan berhubungan dengan kadar GDS. Praktik self care yang baik, berperan penting dalam pengendalian kadar gula darah sewaktu sehingga diperlukan edukasi dan pendampingan secara berkelanjutan agar pasien mampu menerapkan self care secara optimal.
Description
Validasi dan Finalisasi Repositori File 29 Juli 2026_Kholif Basri
