Autokorelasi Spasial Kasus Kusta di Kabupaten Jember Tahun 2024
| dc.contributor.author | Dies Bunga Grandise | |
| dc.date.accessioned | 2026-07-24T06:37:31Z | |
| dc.date.issued | 2026-07-15 | |
| dc.description | Validasi file repositori 24 Juli 2026_Firli | |
| dc.description.abstract | Kusta merupakan penyakit menular kronis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan kecacatan, stigma sosial, dan penurunan kualitas hidup. Penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium leprae dengan risiko penularan lebih tinggi pada tipe Multibasiler (MB). Indonesia, khususnya Jawa Timur, masih memiliki beban kasus yang tinggi. Kabupaten Jember dipilih karena jumlah kasus tahun 2024 masih tinggi dan diduga memiliki pola sebaran tidak acak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis autokorelasi spasial kasus kusta di Kabupaten Jember tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi ekologi menggunakan pendekatan analisis autokorelasi spasial. Unit analisis dalam penelitian ini adalah 31 kecamatan di Kabupaten Jember. Data yang digunakan merupakan data sekunder meliputi jumlah kasus kusta, jumlah fasilitas kesehatan, dan persentase Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, kepadatan penduduk dari Badan Pusat Statistik (BPS), serta persentase keluarga miskin dari Dinas Sosial Kabupaten Jember tahun 2024. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan aplikasi QGIS dan R Studio melalui pengujian Indeks Moran dan Local Indicator of Spatial Association (LISA) untuk menganalisis pola autokorelasi spasial global maupun lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus kusta di Kabupaten Jember tahun 2024 lebih banyak terjadi pada kelompok usia 15–59 tahun sebesar 75% dan pada laki-laki sebesar 60,48%. Dominasi pada usia produktif mengindikasikan tingginya mobilitas dan interaksi sosial yang berpotensi meningkatkan risiko penularan, sedangkan tingginya proporsi laki-laki dapat berkaitan dengan faktor perilaku, paparan lingkungan, serta kecenderungan keterlambatan pencarian pengobatan. Berdasarkan klasifikasi epidemiologi, tipe Multibasiler (MB) merupakan tipe yang paling dominan yaitu sebesar 95,97%, yang menunjukkan tingginya potensi penularan karena jumlah bakteri yang lebih banyak serta kemungkinan keterlambatan deteksi kasus. Analisis Indeks Moran univariat menunjukkan autokorelasi spasial positif signifikan pada kasus kusta (I=0,2568; p=0,005), kepadatan penduduk (I=0,3912; p=0,001), dan fasilitas kesehatan (I=0,2841; p=0,006), yang menandakan adanya pengelompokan wilayah. Secara epidemiologis, hal ini mengindikasikan kemungkinan transmisi lokal yang dipengaruhi oleh kedekatan wilayah, interaksi penduduk, serta faktor sosial dan lingkungan. Kepadatan tinggi meningkatkan kontak antar individu, sedangkan konsentrasi fasilitas kesehatan dapat meningkatkan temuan kasus. Analisis LISA mengidentifikasi klaster high-high kasus kusta di Kecamatan Sumberbaru dan Tanggul, kepadatan penduduk di Ajung, Kaliwates, dan Sumbersari, serta fasilitas kesehatan di Wuluhan, menunjukkan distribusi spasial yang tidak merata. Analisis Moran bivariat tidak menunjukkan hubungan spasial signifikan secara global, namun LISA mengungkap hubungan lokal antara kepadatan penduduk dan kasus kusta di Ajung dan Sumbersari, serta antara fasilitas kesehatan dan kasus kusta di Wuluhan. Hal ini menunjukkan adanya variasi lokal akibat perbedaan karakteristik wilayah. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kasus kusta di Kabupaten Jember tahun 2024 memiliki pola autokorelasi spasial yang mengelompok pada beberapa wilayah tertentu. Kepadatan penduduk dan jumlah fasilitas kesehatan memiliki keterkaitan spasial secara lokal dengan distribusi kasus kusta. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Jember diharapkan dapat memperkuat surveilans berbasis wilayah dan memprioritaskan intervensi pada kecamatan yang termasuk klaster risiko tinggi. Peningkatan deteksi dini, pemeriksaan kontak serumah, pemerataan layanan kesehatan, serta edukasi masyarakat mengenai pencegahan kusta perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung program eliminasi kusta di Kabupaten Jember. | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing Utama: Nurul Ulya Luthfiyana, SST., M.K.M. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/11985 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Kesehatan Masyarakat | |
| dc.subject | Autokorelasi | |
| dc.subject | Spasial analisis | |
| dc.subject | Kusta | |
| dc.subject | SOCIAL SCIENCES::Statistics, computer and systems science::Statistics::Biostatistics | |
| dc.title | Autokorelasi Spasial Kasus Kusta di Kabupaten Jember Tahun 2024 | |
| dc.type | Other |
