Perbedaan Strategi Koping pada Pasien Laki-laki dan Perempuan dengan Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis di RSD dr. Soebandi Jember

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Keperawatan

Abstract

Penyakit ginjal kronis (PGK) stadium akhir memerlukan terapi hemodialisis yang dilakukan secara rutin dan jangka panjang. Proses ini tidak hanya berdampak pada kondisi fisik pasien, tetapi juga menimbulkan beban psikologis dan sosial yang dapat memicu stres, kecemasan, serta perubahan peran dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pasien PGK membutuhkan strategi koping yang tepat untuk mampu beradaptasi dengan tuntutan penyakit dan terapi hemodialisis. Penelitian menunjukkan bahwa strategi koping berperan penting dalam pengelolaan stres dan kualitas hidup pasien hemodialisis. Rincon Bello et al. (2024) melaporkan bahwa peningkatan skor kualitas hidup berhubungan dengan penurunan risiko mortalitas sebesar 7,4–11,4%. Namun, penggunaan strategi koping dapat berbeda berdasarkan jenis kelamin. Oppegaard et al. (2020) menemukan bahwa pasien perempuan memiliki skor Emotion-Focused Coping (EFC) yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, seperti positive reframing (mean 5,4 vs 5,0) dan venting (mean 4,0 vs 3,5). Sebaliknya, penelitian Goren et al. (2025) menunjukkan bahwa perempuan lebih dominan menggunakan instrumental support yang termasuk Problem-Focused Coping (PFC) dibandingkan laki-laki (p = 0,010). Sementara itu, penelitian Nikpey et al. (2023) pada pasien hemodialisis tidak menemukan perbedaan strategi koping yang bermakna antara laki-laki dan perempuan, baik pada PFC (p > 0,05) maupun EFC (p > 0,05). Perbedaan hasil penelitian terdahulu tersebut menunjukkan bahwa pola strategi koping berdasarkan jenis kelamin pada pasien hemodialisis masih belum konsisten. Selain itu, penelitian yang secara khusus mengkaji perbedaan strategi koping pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis di Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis perbedaan strategi koping antara pasien laki-laki dan perempuan dengan PGK yang menjalani hemodialisis, sehingga dapat menjadi dasar dalam pengembangan pendekatan keperawatan yang lebih sesuai dengan karakteristik pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan strategi koping pada pasien laki-laki dan perempuan dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani terapi hemodialisis di RSD dr. Soebandi Jember. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif komparatif dengan pendekatan cross-sectional dan teknik proportional random sampling, dengan jumlah responden sebanyak 71 orang. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner Brief Cope untuk mengukur strategi PFC dan EFC. Analisis data dilakukan menggunakan uji independent t-test dan uji Mann– Whitney. Penelitian ini telah melalui uji kelayakan etik dengan Nomor Uji Etik Penelitian 425/UN25.1.14/KEPK/2025 di Fakultas Keperawatan Universitas Jember. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan strategi koping yang bermakna antara pasien laki-laki dan perempuan dengan penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Analisis menggunakan uji Mann–Whitney menunjukkan terdapat perbedaan strategi PFC pada laki-laki dan perempuan dengan nilai p = 0,004, serta didapati pula bahwa strategi PFC lebih dominan pada pasien laki-laki dibandingkan perempuan, dengan nilai mean rank laki-laki sebesar 43,85 dan perempuan sebesar 29,91. Sementara itu, hasil uji independent t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan strategi EFC pada laki-laki dan perempuan dengan nilai p = 0,010, dalam hal ini didapati pula penggunaan EFC lebih tinggi pada pasien perempuan dibandingkan pasien laki-laki, dengan nilai rerata pada perempuan sebesar 51,20 ± 6,32 dan pada laki-laki sebesar 47,64 ± 4,49. Analisis lebih lanjut pada tiap indikator menunjukkan bahwa pasien laki-laki lebih dominan menggunakan strategi PFC terutama pada indikator active coping (mean 3,96) dan instrumental support (mean 3,22), yang menggambarkan kecenderungan menghadapi stres melalui tindakan aktif dan pencarian solusi yang bersifat praktis. Sebaliknya, pasien perempuan menunjukkan dominasi pada strategi EFC, khususnya pada indikator acceptance (mean 3,86), positive reframing (mean 3,78), religion (mean 3,81), dan emotional support (mean 3,27), yang mencerminkan kecenderungan mengelola stres dengan menerima kondisi yang dialami, menata ulang makna emosional, memperkuat aspek religius, serta mencari dukungan emosional dari lingkungan sekitar. Temuan ini menunjukkan bahwa Ha diterima dan menunjukkan adanya perbedaan kecenderungan strategi koping berdasarkan jenis kelamin pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis.

Description

Reuploud file repositori 20 Mei 2026_Firli Approved by Teddy

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By