Optimasi Diameter Pipa Pada Sistem Fia Dan Variasi Volume Larutan Destruksi Pupuk Organik Dalam Analisis Potensiometri Fosfat

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam

Abstract

Pupuk organik merupakan suatu kebutuhan dalam peradaban saat ini yang digunakan dalam bidang pertanian untuk menyuburkan tanah secara alami. Salah satu unsur hara makro yang sangat dibutuhkan tananaman dalam pupuk organik adalah fosfor. Fosfor berperan penting dalam pembentukan akar, biji dan mendukung pertumbuhan tanaman. Untuk mengetahui kandungan kadar fosfor dalam pupuk dapat dilakukan analisis dalam bentuk senyawa fosfat menggunakan berbagai metode, salah satunya adalah flow injection potentiometry (FIP). Sistem FIP terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu unit penggerak (pump), unit injeksi, transport & reactor unit, dan unit detektor. Salah satu bagian penting dalam sistem ini adalah transport & reactor unit, yang berfungsi sebagai saluran aliran sampel dan tempat terjadinya pencampuran dan reaksi kimia.komponen utama unit ini meliputi pipa tubing, konektor dan reaktor. Peneltian ini menggunakan pipa tubing dengan variasi diameter internal 0,51; 0,76; dan 1,02mm untuk melihat pengaruhnya dalam performa sistem FIP. Sebelum dianalisis, sampel pupuk organik harus melalui tahap pengolahan awal yaitu destruksi, yakni proses pemecahan senyawa organik kompleks menjadi bentuk sederhana (ion fosfat) dengan bantuan campuran asam dan pemanasan. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pengaruh beberapa variasi diameter pipa tubing pada sistem FIP dan mengetahui volume pelarut destruksi (H2SO4) yang paling optimal dalam proses analisis fosfat dari sampel pupuk organik. Penelitian ini diawali dengan mempersiapkan alat flow injection analysis potentiometry. Tahap berikutnya yakni mempersiapkan larutan ISA KHP pH 4 sebagai larutan carrier. Larutan standar yang disiapkan adalah larutan standar dengan konsentrasi 1 x 10-2 M, 1 x 10-3 M, 1 x 10-4 M dan 1 x 10-5 M. Tahap selanjutnya dilakukan analisis dengan variasi diameter pipa dengan internal diameter 0,51; 0,76; dan 1,02 mm. Diameter optimum kemudian dilakukan uji karakterisasinya dalam mendeteksi fosfat dengan linearitas, sensitivitas, limit deteksi dan repeatabilitas. Langkah berikutnya dilakukan optimasi volume destruksi pupuk organik dengan menggunakan variasi pelarut asam sulfat dengan uvariasi 1; 2; 2,5; dan 5 mL. Hasil optimum yang didapatkan kemudian dilakukan uji %recovery dengan sistem FIP. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diameter pipa yang optimum dalam sistem FIP adalah dengan internal diameter terkecil (0,51 mm) hasil ini menunjukkan dispersi rendah, waktu respon cepat, sensitivitas dan linearitas tertinggi. Hasil optimasi diameter pipa ini kemudian dapat dilanjutkan dengan pembuatan kurva kalibrasi. Hasil uji karakterisasi pada kurva kalibrasi yang didapat adalah linearitas (R2) 0,9394 dan sensitivitas yakni 50,517 mV/dekade, limit deteksi (1,44 x 10-5 M), dan nilai keterulangan (1,4%). Hasil nilai persen pada kadar fosfat setiap variasi volume pelarut berturut-turut (1; 2; 2,5; 5 ml) yakni (0,677; 3,193; 1,438; dan 2,018%). Hasil optimasi volume destruksi sampel menggunakan asam sulfat menunjukkan nilai tertinggi pada volume 2 mL. Hasil ini membuktikan bahwa hasil optimum dapat dikatakan pada penggunaan volume pelarut asam sulfat dengan 2 mL. Hasil optimum tersebut kemudian digunakan dalam mengetahui keakuratan pengukuran sampel dengan %recovery. Uji recovery digunakan sebagai evaluasi keakuratan dan efektivitas suatu metode yang digunakan. Hasil dari %recovery destruksi sampel pupuk organik yakni sekitar 93,36 sampai 102,2 %.

Description

Reupload Repositori File 23 Februari 2026_Kholif Basri

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By