Uji Ketahanan Tebu Produk Rekayasa Genetik Event SPS terhadap Infeksi Sugarcane Streak Mosaic Virus
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Sugarcane Streak Mosaic Virus (SCSMV) menjadi ancaman yang signifikan
terhadap produktivitas tebu. Menurut Putra et al. (2014), menyatakan bahwa serangan
SCSMV dapat menyebabkan kehilangan hasil lebih dari 50% pada varietas yang rentan.
Salah satu solusi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut yaitu penggunaan tebu
produk rekayasa genetik (PRG). Tebu PRG merupakan salah satu produk hasil
implementasi rekayasa genetik yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan terhadap
segala cekaman lingkungan dan serangan hama penyakit (Babu et al., 2021). Salah Satu
tebu PRG yang memiliki karakteristik tahan terhadap infeksi SCSMV yaitu SRA-1. yang
telah teruji dengan skor ketahanan 0% dari parameter insidensi penyakit pada
penelitiannya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan membandingkan ketahanan dua
tebu PRG event SPS terhadap infeksi SCSMV. Hasil dari penelitian ini, diharapkan dapat
memberikan informasi yang dapat digunakan dalam penelitian dan implementasi
budidaya tanaman tebu selanjutnya.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
faktor tunggal, yang terdiri dari 4 perlakuan yaitu tebu varietas Bululawang sebagai
kontrol, PS 882 sebagai varietas rentan, Tebu PRG SPS 1, dan Tebu PRG SPS 3 dilakuan
15 kali ulangan sebanyak 60 bagal tebu. Tahapan yang pertama yaitu deteksi virus
SCSMV pada sumber inokulum pada tebu yang memiliki gejala tampak mosaik pada
daunnya. Anakan tebu yang terdeteksi terinfeksi SCSMV diambil dan dikembangkan
sebanyak 5 pot. Tahapan kedua yaitu pindah tanam tanaman percobaan yang berusia 2
minggu pada media campuran tanah dan pasir dengan perbandingan 1:1. Tahapan terakhir
yaitu proses inokulasi yaitu proses pemindahan virus SCSMV pada tanaman percobaan
yang telah berusia 2 bulan. Variabel pengamatan yang digunakan yaitu deteksi SCSMV
dengan RT-PCR, insidensi penyakit, masa inkubasi, keparahan penyakit, analisis kadar
klorofil, dan analisis sukrosa. Analisis data menggunakan uji ANOVA dan uji BNT
dengan bantuan software SPSS 25.
Deteksi virus sumber inokulum dilakukan dengan metode RT-PCR menggunakan
primer cp-SCSMV (1200 bp), cp-SCMV (700 bp), dan cp-SrMV (500 bp). Berdasarkan
hasil PCR, menunjukkan bahwa infeksi mosaik pada tanaman tebu dalam penelitian ini
kemungkinan besar disebabkan oleh SCSMV. Berdasarkan identifikasi virus SCSMV secara morfologi menunjukkan bahwa terdapat tiga varietas tebu yang terdapat gejala
mosaik yaitu SPS1, SPS3, dan PS882. Berdasarkan hasil pengujian RT-PCR
menggunakan sepasang primer cp-SCSMV menunjukkan bahwa tanaman tebu yang
positif terinfeksi SCSMV yaitu SPS1 U1, SPS3 U9, SPS3 U13, dan PS882 U14. Tanaman
tebu yang terinfeksi SCSMV ditandai denagan ukuran pita cDNA sekitar 1200 basepair
(bp). Tingkat insidensi penyakit tertinggi yaitu tebu varietas SPS3 yang menunjukkan
persentase sebesar 13.33%. Tingkat insidensi penyakit terendah yaitu tebu varietas
Bululawang yang menunjukkan persentase sebesar 0%.
Masa inkubasi SCSMV yang paling lambat menunjukkan gejala infeksi yaitu tebu
varietas PS882 dengan masa inkubasi selama 32 hari setelah infeksi (HSI). Masa inkubasi
SCSMV yang paling cepat menunjukkan gejala infeksi yaitu jenis tebu varietas SPS1
dengan masa inkubasi selama 25 HSI. Tingkat keparahan penyakit tertinggi yaitu tebu
varietas SPS3 yang menunjukkan persentase sebesar 10.17%. Sementara itu, tingkat
keparahan penyakit terendah yaitu tebu varietas PS882 yang menunjukkan persentase
7.33%. Total kadar klorofil tebu SPS1 yang terinfeksi sebesar 1.1038 mg/g FW, SPS3
yang terinfeksi sebesar 1.2928 mg/g FW, dan PS882 yang terinfeksi sebesar 1.2236 mg/g
FW. Hal tersebut menunjukkan bahwa tebu varietas SPS1 memiliki total kadar klorofil
paling rendah dan SPS3 memiliki kadar klorofil tertinggi
Description
Reupload file repository 27 Maret 2026_Maya
