Pengaruh Aktivitas Alat Berat, Peledakan, Dan Tekanan Air Tanah Terhadap Kestabilan Lereng Timbunan Tambang Batubara di Kabupaten Kutai Timur Kalimantan Timur
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknik
Abstract
Tambang batubara di Indonesia pada umumnya menggunakan metode
tambang terbuka yang memerlukan pembukaan tanah atau batuan untuk
mendapatkan batubara dan menyisakan sebuah lubang. Sisa lubang tersebut
nantinya akan ditimbun kembali menggunakan material tanah atau batuan yang
tidak memiliki nilai jual, kemudian material timbunan diletakkan pada area khusus
sehingga membentuk sebuah lereng timbunan. Lereng timbunan sangat rentan
terhadap keruntuhan, karena kemiringan yang curam, beban tambahan, getaran,
kondisi air tanah, dan komposisi material. Maka diperlukan pemantauan untuk
mengurangi risiko terjadinya ketidakstabilan lereng pada area timbunan dan
meningkatkan keselamatan di lokasi penambagan. Selain itu pemantauan juga
mengkonfirmasi kondisi bahaya di lapangan dan meminimalkan dampak
kecelakaan kerja. Faktor yang mempengaruhi ketidakstabilan lereng tanah atau
batuan di tambang sangatlah kompleks dan beragam, seperti adanya beban statis,
beban dinamis, struktur geologi, iklim, vegetasi, pelapukan, pola drainase, aktivitas
konstruksi, dan kondisi khusus lereng lainnya.
Penelitian ini dilakukan pada area timbunan yang berdekatan dengan area
peledakan di Kabupaten Kutai Timur Kalimantan Timur. Data yang digunakan pada
penelitian ini yaitu data sekunder selanjutnya dilakukan analisis data. Pengolahan
data dilakukan pada hasil beban dari alat angkut, peledakan, dan tekanan air tanah
dari perusahaan. Selanjutnya data topografi timbunan dan sifat material digunakan
untuk memodelkan timbunan melalui software Slide, dan Phase 2. Setelah semua
data diolah didapatkan hasil perhitungan faktor pembebanan dan hasil pemodelan
timbunan dapat dianalisis. Analisis data dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari
alat angkut, peledakan, dan tekanan air tanah terhadap kestabilan lereng timbunan.
Kestabilan lereng timbunan dianalisis menggunakan Metode Kesetimbangan Batas (LEM) berupa Metode Bishop dan Morgenstern-Price, serta menggunakan Metode
Elemen Hingga (FEM) dengan tipe keruntuhan yang sama yaitu Mohr-Couloumb.
Berdasarkan penelitian ini didapatkan melalui analisis beban dinamis dari
setiap variabel, yaitu dari alat angkut, peledakan, dan tekanan air tanah pada area
timbunan. Melalui kelongsoran yang sudah diketahui, analisis ini dilakukan saat
sebelum pembebanan maupun setelah terjadinya pembebanan, maka dihasilkan
nilai FK menggunakan Metode Bishop sebelum pembebanan sebesar 1,949 dan
Metode Morgenstern-Price sebesar 2,009 serta pada Metode FEM nilai FK yang
didapat sebesar 1,450. Selanjutnya saat dilakukan pembebanan menggunakan
Metode Bishop dan Morgenstern-Price sebesar 0,853, kesamaan nilai FK tersebut
disebabkan berbagai faktor dalam perhitungan, pemodelan, maupun konsep dasar
dari kedua metode tersebut sehingga nilai yang dihasilkan hampir mendekati atau
bahkan sama. Sedangkan pada Metode FEM didapat nilai FK sebesar 0,520, nilai
tersebut turun drastis ketika tiga faktor dimasukkan secara bersamaan.
Selanjutnya dilakukan pemodelan ulang dan perhitungan nilai FK maupun
SRF untuk mendapatkan nilai FK yang aman dan optimal, untuk parameter lereng
aman yaitu dilihat dari nilai FK yang memenuhi syarat dari ambang batas yang telah
ditentukan yaitu lebih besar dari 1,1. Sedangkan parameter untuk lereng optimal
yaitu lereng yang mampu menahan adanya beban tambahan, cuaca, dan faktor
lainnya. Setelah dimodelkan ulang didapatkan panjang bench sebesar 144m, dengan
tinggi slope 12m, serta sudut kemiringan 37º, yang menyisakan sebuah lubang
dengan tinggi 12m dan panjang 67m. Maka didapatkan nilai FK salam kondisi
kering menggunakan Metode Bishop 3,932, saat kondisi basah didapat nilai FK
sebesar 3,532, sedangkan nilai FK menggunakan Metode Morgenstern-Price dalam
kondisi kering sebesar 3,930 dan saat dalam kondisi basah sebesar 3,532.
Selanjutnya nilai FK yang didapat pada Metode FEM didapatkan nilai sebesar
1,530 dalam kondisi kering dan 1,370 dalam kondisi basah. Dari hasil penelitian ini
nilai FK pada metode LEM lebih besar daripada nilai FK dari metode FEM, hal
tersebut disebabkan adanya penambahan parameter yang dianalisis pada metode
FEM seperti modulus young, tensile strength, poisson ratio, dan parameter lainnya
yang tidak ditemukan pada metode LEM. Penelitian ini menggunakan nilai FK dengan metode LEM, sebagai parameter tambahan lainnya didapat dari metode
FEM seperti total displacement, sebagai gambaran displacement lereng timbunan
sejauh mana dengan nilai FK setelah dilakukan pemodelan ulang, serta disesuaikan
dengan peraturan KEPMEN ESDM 1827 K/30/MEM/2018, dengan jenis lereng
tunggal menggunakan kriteria beban dinamis sebesar 1,1. Maka hasil dari
pemodelan ulang nilai FK yang didapat dianggap stabil karena melebihi dari nilai
yang telah ditentukan.
Description
Reupload File Repositori 30 Maret 2026_Maya/Lia
