Uji Aktivitas Anti-Inflamasi Fraksi Etil Asetat Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Valeton & Zijp) pada Mencit yang Diinduksi Formalin
| dc.contributor.author | M. Ghifari Abdallah | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-19T02:04:39Z | |
| dc.date.issued | 2025-01-13 | |
| dc.description | reupload file repositori 19 Februari 2026_Kholif/Keysa | |
| dc.description.abstract | Inflamasi adalah suatu respon fisiologis terhadap kerusakan biologis pada tubuh. Apabila berprogresi tidak terkendali, inflamasi dapat menyebabkan berbagai efek destruktif. Obat-obatan antiinflamasi telah dikembangkan untuk menghambat progresi inflamasi, namun penggunaan obat-obatan tersebut tidak lepas dari efek samping yang berpotensi berbahaya bagi pasien. Oleh karena itu, saat ini banyak penelitian difokuskan untuk mengkaji aktivitas antiinflamasi tanaman-tanaman herbal yang harapannya dapat digunakan dengan efek samping yang minimal. Salah satu tanaman herbal tersebut adalah temu giring (Curcuma heyneana Valeton & Zijp) yang saat ini masih relatif kurang ditelaah terkait aktivitas farmakologisnya. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi aktivitas antiinflamasi fraksi etil asetat rimpang temu giring (FEA RTG) melalui pengukuran tebal plantar dan kadar malondialdehida (MDA) serum sebagai parameter inflamasi. Penelitian dilakukan pada model inflamasi plantar mencit yang diinduksi dengan injeksi larutan formalin 2%. Enam kelompok perlakuan digunakan dalam penelitian ini, yakni kelompok sham, kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, dan kelompok perlakuan FEA RTG 1, 2, dan 3 (masing-masing diberi dosis 125, 250, dan 500 mg/kgBB). Masing-masing perlakuan diberi secara per oral satu jam setelah induksi inflamasi dan diulangi setiap hari selama enam hari. Tebal plantar mencit diukur setiap hari, lalu data tebal plantar mencit pada hari terakhir pengukuran digunakan untuk menentukan persentase penghambatan inflamasi (PPI). Pada hari ketujuh penelitian, mencit dikorbankan untuk pengambilan darah intrakardiak. Sampel darah yang telah diambil diperlakukan sesuai dengan prosedur uji thiobarbituric acid reactive substances (TBARS) untuk menentukan kadar MDA serum. Hasil analisis statistik ANOVA satu arah menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan di antara data PPI kelompok kontrol positif dengan kelompok perlakuan FEA RTG. Namun, uji post hoc Tukey menunjukkan bahwa data PPI kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan FEA RTG 500 mg/kgBB tidak berbeda signifikan. Lalu, hasil analisis statistik Kruskal-Wallis mengindikasikan adanya perbedaan di antara data kadar MDA serum mencit di seluruh kelompok uji. Uji post hoc Mann-Whitney mendemonstrasikan adanya penurunan kadar MDA serum yang signifikan secara statistik pada kelompok perlakuan FEA RTG 250 dan 500 mg/kgBB bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif. Berdasarkan hasil tersebut, FEA RTG terbukti memiliki aktivitas antiinflamasi yang diduga disebabkan oleh kandungan senyawa bioaktif seperti terpenoid dan flavonoid, utamanya kurkuminoid. Penelitian terdahulu menunjukkan adanya kemampuan FEA RTG untuk menghambat aktivitas enzim siklooksigenase, sehingga kemungkinan melalui mekanisme tersebutlah FEA RTG melepaskan efek antiinflamasinya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa FEA RTG dosis 500 mg/kgBB dapat dengan efektif menurunkan tebal plantar mencit. Selain itu, FEA RTG dosis 250 dan 500 mg/kgBB dapat secara signifikan menurunkan kadar MDA serum mencit. | |
| dc.description.sponsorship | DPU : Dr. apt. Fifteen Aprila Fajrin, S.Farm., M.Farm. DPA : apt. Diana Holidah, S.F., M.Farm. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/3627 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Farmasi | |
| dc.subject | ketebalan telapak kaki | |
| dc.subject | malondialdehida | |
| dc.title | Uji Aktivitas Anti-Inflamasi Fraksi Etil Asetat Rimpang Temu Giring (Curcuma heyneana Valeton & Zijp) pada Mencit yang Diinduksi Formalin | |
| dc.type | Other |
