Optimasi Tween 80 dan Polietilen Glikol 400 dalam Self Nanoemulsifying Drug Delivery System Glibenklamid dengan Isopropil Miristat sebagai Fase Minyak

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

fakultas farmasi

Abstract

Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit disebabkan oleh gangguan metabolisme pada seseorang yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah melebihi nilai normal. Prevalensi penyakit DM di Indonesia menurut data Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2018), penderita DM pada tahun 2018 (8,5 %) terjadi peningkatan dibanding tahun 2013 (6,9 %). DM yang paling banyak diderita dan prevalensinya terus meningkat yaitu DM tipe 2 dengan persentase kasus yaitu 90 % dari seluruh kasus DM di dunia. Salah satu obat yang dikenal digunakan sebagai antidiabetes adalah glibenklamid. Glibenklamid atau dikenal dengan nama Glyburide merupakan obat yang di klasifikasikan dalam Biopharmaceutics Classification System (BCS) Class II dengan beberapa permasalahan, glibenklamid diabsorpsi tidak optimal yaitu sebesar 84 %, dan memiliki kelarutan yang rendah. Kelarutan yang rendah ini menyebabkan disolusi dan bioavailabilitasnya juga rendah. Pengembangan formula dalam bentuk Self Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) merupakan delivery system yang tepat untuk dapat meningkatkan absorpsi, kelarutan, dan bioavailabilitas obat yang rendah. SNEDDS akan membentuk nanoemulsi ketika dikombinasikan dengan fase air dalam kondisi agitasi, secara perlahan nantinya akan terbentuk nanoemulsi minyak dalam air (M/A) secara spontan. Nanoemulsi merupakan suatu sistem emulsi yang transparan dan memiliki ukuran submikron antara 20-200 nm. Dua komponen penting dalam sediaan SNEDDS yaitu surfaktan dan kosurfaktan yang berfungsi dalam menurunkan tegangan muka antara dua cairan yang tidak saling campur. Surfaktan dan kosurfaktan yang terpilih yaitu tween 80 dan PEG 400. Tween 80 dipilih sebagai surfaktan karena nilai HLB yang besar yaitu 15, sehingga mempermudah turunnya tegangan antarmuka minyak dengan air ketika formula SNEDDS bertemu dengan cairan lambung. PEG 400 sebagai kosurfaktan dapat berfungsi sebagai emulsifier yang membantu Tween 80 dalam menurunkan tegangan antarmuka sehingga terbentuk nanoemulsi yang stabil. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jumlah tween 80 dan PEG 400 terhadap nilai transmitan dan waktu emulsifikasi. Nilai transmitan menggambarkan keberhasilan sistem membentuk droplet emulsi mencapai ukuran nanometer. Waktu emulsifikasi merupakan salah satu penilaian penting dalam menentukan efisiensi emulsifikasi. Metode simplex lattice design digunakan dengan dua faktor (jumlah tween 80 dan PEG 400) serta menghasilkan 8 rancangan formula. Respon yang diamati adalah nilai transmitan dan waktu emulsifikasi. Analisis efek faktor terhadap respon menghasilkan formula optimum. Formula optimum dilanjutkan dengan melakukan karakterisasi berupa uji organoleptis, penentuan pH, penentuan ukuran, distribusi, serta zeta potensial partikel dan uji stabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tween 80 dan PEG 400 dapat meningkatkan nilai transmitan dan waktu emulsifikasi serta tidak terdapat interaksi kedua faktor. Komposisi formula optimum SNEDDS glibenklamid terdiri dari kombinasi 0,7 mL tween 80 dan 0,1 mL PEG 400. Formula optimum SNEDDS glibenklamid memiliki warna kuning pucat, berbau khas tween 80 dan penampilan yang jernih, pH 6,54 ± 0,025, memiliki ukuran, indeks polidispersitas dan zeta potential berturut-turut 163,5 nm, 0,430 dan -19,8 mV, dan sistem yang stabil ditandai dengan tidak ada perubahan nilai transmitan dan pH yang signifikan serta tidak terdapat pemisahan fase setelah dilakukan sentrifugasi pada sebelum dan sesudah pengujian stabilitas.

Description

reupload file repository 14 april 2026 izza/toufik

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By