Penggunaan Tepung Beras Termodifikasi Heat Moisture Temperature (HMT) dan Tepung Umbi Talas dalam Produksi Bihun Tinggi Serat
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Bihun merupakan salah satu olahan mie yang terbuat dari tepung beras,
berwarna putih dan mudah patah ketika kering, memiliki tekstur yang kenyal elastis,
dan sering dipadukan dengan bahan lain sebagai alternatif sumber karbohidrat oleh
masyarakat untuk dikonsumsi. Namun, bihun cenderung memiliki kandungan serat
yang rendah sehingga menurunkan sifat fungsional yang terkandung. Teknologi
modifikasi HMT (Heat Moisture Temperature) merupakan salah satu cara yang
digunakan untuk meningkatkan kandungan serat tepung beras yang merupakan bahan
baku utama dalam pembuatan bihun. Selain meningkatkan serat, medote modifikasi
tersebut juga dipilih untuk memperbaiki karakteristik bihun yang dihasilkan, khusus
nya pada daya tahan patah dan cooking loss. Alternatif solusi lain berupa substitusi
tepung beras HMT dan tepung umbi talas juga menjadi parameter perbandingan untuk
mengetahui kandungan serat terbaik yang diperoleh. Tepung umbi talas dipilih karena
mengandung serat yang cukup banyak dibandingkan dengan tepung sejenis. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui perubahan karakteristik bihun yang dihasilkan yaitu:
daya rehidrasi; cooking loss; daya tahan patah dan warna dan juga mengetahui
karakteristik kimia berupa: kadar air; kadar abu dan serat.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 1 faktor yaitu perbedaan jenis
tepung (tepung beras termodifikasi HMT dan tepung talas). Penentuan tepung
berdasarkan formula (100:0; 75:25; 50:50; 25:75; dan 0:100). Setiap perlakuan
dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali. Bihun dengan perlakuan formula terbaik
diperoleh berdasarkan uji efektivitas pada setiap parameter, khususnya daya tahan
patah, cooking loss dan serat. Hasil penelitian menunjukkan bihun yang dihasilkan memiliki kadar air dan kadar abu yang masih sesuai dengan standar mutu SNI, dengan
kadar abu cenderung meningkat seiring penambahan tepung umbi talas. Daya rehidrasi
menurun pada seiring penambahan tepung umbi talas. Sementara itu, nilai cooking loss
menurun pada formula dengan tepung termodifikasi, menandakan kestabilan produk
yang lebih baik selama proses pemasakan. Daya tahan patah tertinggi ditemukan pada
formula dengan tepung beras kontrol dan tepung beras HMT, menunjukkan struktur
yang lebih kuat dibandingkan dengan bihun substitusi tepung umbi talas. Warna bihun
dipengaruhi oleh jenis tepung, dimana penambahan talas dan tepung beras
termodifikasi HMT menurunkan nilai kecerahan (L) dan meningkatkan warna
kekuningan (b). Kandungan serat bihun meningkat dengan penggunaan substitusi
tepung beras HMT dan tepung umbi talas. Secara keseluruhan, formula dengan
kombinasi tepung termodifikasi dan talas memberikan karakteristik fisik-kimia bihun
yang lebih fungsional.
