Variasi Bahasa Indonesia dalam Media Sosial Instagram #ResetIndonesia: Kajian Sosiolinguistik

Abstract

Bahasa merupakan sarana utama dalam berkomunikasi, termasuk juga dalam berinteraksi di ruang publik yaitu media sosial. Interaksi yang terjadi di media sosial khususnya Instagram, berfungsi sebagai media bertukar informasi sekaligus sebagai ruang untuk mengekspresikan identitas sosial, emosi, dan sikap politik. Pengguna Instagram kerap kali menggunakan berbagai modifikasi variasi bahasa yang mencerminkan tujuan tertentu. Terdapatnya keterbatasan fitur dalam media sosial dan dinamika sosial-politik yang menyebabkan munculnya gelombang demonstrasi di dunia nyata dan media sosial berskala masif memicu munculnya variasi leksikon khas internet yang sangat beragam. Berdasarkan hal itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan wujud variasi leksikon yang digunakan pengguna Instagram dalam #ResetIndonesia di Instagram, mengungkap faktorfaktor yang memengaruhi penggunaannya, dan fungsi penggunaan variasi bahasa tersebut terhadap konteks #ResetIndonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa tuturan tulis yang muncul dalam caption dan komentar postingan Instagram yang memuat #ResetIndonesia pada periode 25 Agustus hingga 8 September 2025. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode observasi secara langsung terhadap interaksi pengguna Instagram di kolom komentar. Data analisis menggunakan metode komparatif sinkronis digunakan untuk membandingkan makna kontekstual leksikon dengan makna leksikalnya, dan teknik analisis data interaktif oleh Miles dan Huberman yang mencakup tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan. Hasil pembahasannya disajikan secara deskriptif. Kemunculan variasi bahasa yang digunakan oleh pengguna Instagram dipengaruhi tiga faktor, yaitu siapa yang diajak komunikasi, tujuan tuturan, dan situasi komunikasi. Penggunaan variasi bahasa yang dilakukan oleh pengguna Instagram menunjukkan sikap perlawanan yang tegas terhadap kebohongan pemerintah. Hal tersebut tercermin dari penggunaan bahasa yang kasar atau leksikon lambene dan bukan menggunakan bahasa yang bertaraf santun. Meskipun sering kali ditemukan penggunaan kata yang berkonotasi buruk atau menciptakan berbagai modifikasi dan menciptakan makna baru dari suatu kata, hal tersebut bekerja ampuh untuk menunjukkan sikap perlawanan dan menyebarkan narasi protes secara masif di media sosial, khususnya Instagram. Penelitian ini menemukan adanya kreativitas linguistik yang tinggi melalui pemilihan atau penciptaan variasi leksikon yang berasal dari bahasa Indonesia, bahasa asing, dan juga bahasa daerah. Variasi yang disebut diwujudkan dari perubahan bentuk (ortografis), pergeseran makna, penambahan prefiks dan sufiks, dan akronimisasi. Dalam penggunaan variasi bahasa tersebut, mengandung keenam fungsi yang saling melengkapi satu sama lain. Fungsi emotif dominan digunakan untuk mengungkapkan ekspresi kekecewaan, fungsi konatif digunakan untuk memobilisasi massa, fungsi referensial untuk melabeli suatu fakta, fungsi fatik digunakan untuk menjaga ketersambungan komunikasi, fungsi puitik digunakan untuk menciptakan pesan yang estetik, dan fungsi metalingual untuk menyelaraskan makna bahasa dalam konteks perlawanan. Penelitian ini menjabarkan unsur kebaruan yaitu penggunaan variasi bahasa tidak hanya berasal dari bahasa gaul saja, tetapi ditemukan bahwa terdapat pencampuran dua kosakata yang berasal dari bahasa Indonesia dan Korea menjadi leksikon sekiyowo. Leksikon tersebut memadukan antara prefiks se- (bahasa Indonesia) dan leksikon kiyowo (bahasa Korea) yang bermakna sangat imut dan berdasarkan konteksnya, leksikon tersebut digunakan untuk menyampaikan sarkasme terhadap pemerintah. Ditemukan pula leksikon yang merujuk pada makna leksikal spektrum warna tertentu, maknanya bergeser menjadi simbol perlawanan yang dihasilkan dari kesepakatan bersama dan hanya berlaku pada masa demonstrasi berlangsung.

Description

Validasi file repositori 4 Agustus 2026_Firli

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By