Deteksi Aroma Bakso Sapi dan Bakso Babi Menggunakan Electronic Nose Berbasis Sensor MQ 8 dan MQ 135 Pada Berbagai Tingkat Suhu Pemanasan
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Bakso salah satu produk olahan daging yang banyak disukai oleh masyarakat. Bakso pada umumnya terbuat dari daging sapi namun rawan terjadi adulteration, dikarenakan harga daging sapi yang semakin tinggi. Hal tersebut merugikan masyarakat muslim dikarenakan tidak halal mengkonsumsi daging babi. Berdasarkan fakta tersebut maka diperlukan analisis untuk dapat mendeteksi bakso sapi dengan bakso babi berdasarkan karakteristik aroma yaitu dengan menggunakan electronic nose (e-nose). Alat ini dapat meniru konsep kerja hidung manusia yang menyentuh reseptornya. Reseptor e-nose yaitu sensor gas yang sangat sensitif dengan gas tertentu. E-nose dirancang dengan menambahkan alat pemanas sehingga terjadi peningkatan suhu yang menyebabkan uap gas lebih banyak, yang diharapkan respon sensor lebih tinggi.
Penelitian ini terdiri dari empat tahapan. Tahapan pertama yaitu pembuatan bakso sapi. Tahap kedua yaitu, preparasi sampel bakso sapi dan bakso babi. Tahap ketiga, persiapan alat electronic nose dan deteksi aroma bakso sapi dan bakso babi sesuai perlakuan. Tahap terakhir yaitu analisis data secara deskriptif menggunakan statistik parametrik dengan rata-rata (mean). Dilanjutkan dengan analisis perbedaan ragam aroma bakso sapi dan bakso babi menggunakan Principal Component Analysis (PCA).
Hasil analisis data ditampilkan secara deskriptif dalam bentuk grafik. Pada uji pola kinerja e-nose melihat konsentrasi gas pada saat flushing, sensing, dan cleaning. Selain itu, dilakukan analisis deteksi aroma bakso sapi dan bakso babi dengan grafik radar untuk melihat perbedaan pola bakso sapi dan bakso babi. Selanjutnya menentukan suhu optimal yaitu dengan menganalisis respon sensor yang dihasilkan, sensor yang digunakan yaitu sensor MQ 8 dan MQ 135. Konsistensi dan perubahan pola terbentuk dari respon sensor pada tiap perubahan suhu dibandingkan agar diperoleh suhu pemanas optimal. Sampel terukur divariasi suhu (40 – 120 °C) sehingga dihasilkan respon sensor dengan pola teramati. Setelah suhu optimal diperoleh selanjutnya bakso sapi dan bakso babi dengan total 54 sampel diukur aromanya dengan e-nose. Hasil klasifikasi dengan metode PCA sebagai bukti optimasi suhu pemanasan sampel berhasil dilakukan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa e-nose memiliki uji kinerja yang baik, karena dapat membedakan pola aroma sensing, flushing, dan cleaning, sehingga dapat dilakukan pengolahan dan analisis lebih lanjut. Selanjutnya melihat pola aroma pada bakso sapi dan bakso babi, sensor e-nose menghasilkan nilai respons yang lebih tinggi pada pengujian bakso babi dibandingkan pada pengujian bakso sapi. Hal ini dapat dilihat pada pola grafik radar yang dihasilkan untuk bakso babi menunjukkan area grafik yang lebih luas dibandingkan area grafik untuk bakso sapi. Selanjutnya suhu optimum pada e-nose ditunjukkan pada sensor MQ 8 dan MQ 135 optimal pada suhu 100 0C. Kemudian dari suhu optimum digunakan untuk analisis ragam dengan PCA sampel bakso sapi dan bakso babi dapat diklasifikasi hingga 98% total varian data. Kumpulan (cluster) titik-titik data untuk sampel bakso sapi dapat terpisah dengan kumpulan titik-titik data untuk sampel bakso babi. Hal ini mengindikasikan e-nose terbukti mampu mengklasifikasikan sampel bakso babi dan bakso sapi sesuai korelasinya.
Description
Reupload file repository 11 Mei 2026_Ratna
