Diplomasi Jepang dalam Menghadapi Korea Utara Pasca Perubahan Identitas Jepang dari Pasifis Idealis Menjadi Pasifis Proaktif

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Abstract

Kekalahan Jepang pada Perang Dunia ke-2 mengkonstruksi identitas Jepang menjadi pasifis. Jepang sebagai negara pasifis yang menolak perang dan kekerasan, membangun citra sebagai pendukung perdamaian, termasuk melalui pendekatan keamanan manusia. Dalam hubungannya dengan Korea Utara, Jepang mengedepankan bantuan kemanusiaan, diplomasi, dan upaya normalisasi. Namun, di bawah pemerintahan Shinzo Abe, Jepang bertransformasi menjadi pasifis proaktif. Perubahan identitas yang telah terjadi di Jepang pada dasarnya turut mengubah kebijakan luar negeri karena terdapat penyesuaian terhadap kepentingan yang ingin dicapai. Peran proaktif Jepang dibawah kepemimpinan Shinzo Abe yang konservatif telah mengubah diplomasi Jepang dalam menghadapi Korea Utara, dari yang semula menggunakan pendekatan kemanusiaan menjadi diplomasi dengan menggunakan dialog dan tekanan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pembentukan diplomasi Jepang dalam menghadapi Korea Utara pasca perubahan identitas Jepang dari pasifis idealis menjadi pasifis proaktif. Analisis dilakukan penulis dengan menggunakan pandangan konstruktivis dari Alexander Wendt. Ia menjelaskan bahwa identitas suatu negara akan membentuk kepentingan nasional sehingga perumusan kebijakan luar negeri dalam rangka memenuhi kepentingan tersebut dapat terstruktur dengan baik. Konsep diplomasi proaktif juga digunakan penulis dalam menjelaskan praktik diplomasi yang dilakukan Jepang setelah mengalami perubahan identitas keamanan menjadi pasifis proaktif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan pembatasan materi pada kebijakan Jepang terhadap Korea Utara setelah adanya perubahan identitas Jepang menjadi pasifis proaktif di masa Pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe sejak tahun 2013 hingga berakhirnya masa pemerintahan Shinzo Abe di tahun 2020. Pengumpulan data dilakukan penulis menggunakan studi literatur dengan menggunakan teknik triangulasi sumber data dalam menguji keabsahan data. Penulis menganalisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif dari Miles dan Huberman dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, sajian data dan pembuatan kesimpulan. Setelah mengalami perubahan identitas dari pasifis idealis menjadi pasifis proaktif, terdapat penyesuaian kepentingan Jepang terhadap Korea Utara yaitu Jepang berkepentingan untuk meningkatkan keamanan lingkungan global dengan berperan lebih aktif dalam mewujudkan kawasan yang bebas dari senjata nuklir melalui kebijakan denuklirisasi. Selain itu Jepang juga memiliki kepentingan untuk menegakkan keamanan dan keselamatan warga negaranya melalui langkah langkah penyelesaian masalah penculikan yang dilakukan Korea Utara. Pada identitas pasifis idealis, Jepang sangat mengandalkan nilai keamanan manusia melalui bantuan kemanusiaan dan diplomasi multilateral dalam mencapai kepentingannya dengan Korea Utara. Sementara ketika identitas Jepang berubah menjadi negara yang bersifat proaktif Shinzo Abe menunjukkan peran global Jepang yang lebih aktif dalam mewujudkan denuklirisasi Korea Utara dan menyelesaikan masalah penculikan dengan menerapkan diplomasi koersif. Jepang memberikan tekanan kepada Korea Utara melalui sanksi, tekanan diplomatik pada berbagai forum multinasional dan pengadopsian berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB yang melibatkan peran besar Jepang untuk menunjukkan kekuatan Jepang dalam menuntut, memberi urgensi dan ancaman hukuman terhadap Korea Utara. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan penulis menyimpulkan bahwa pelaksanaan diplomasi Jepang yang bersifat koersif merupakan hasil penyesuaian terhadap kepentingan baru Jepang terhadap Korea Utara. Hal tersebut terjadi karena adanya perubahan identitas Jepa

Description

Reupload file repository 26 Februari 2026_Yudi

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By