Analisis Konfigurasi SKEG Pada Kapal Tongkang Terhadap Kemampuan Seakeeping
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknik
Abstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi sudut skeg terhadap
kemampuan seakeeping kapal tongkang dalam menghadapi kondisi laut yang
dinamis. Kapal tongkang dikenal memiliki bentuk lambung yang lebar dan datar,
membuatnya sangat rentan terhadap gerakan enam derajat kebebasan, terutama roll
(olengan) dan yaw (berbelok), yang dapat mengganggu kestabilan serta
membahayakan muatan dan awak kapal. Untuk mereduksi gerakan ini, umumnya
digunakan skeg sebagai stabilisator pasif yang dipasang di bagian bawah lambung.
Penelitian ini menyelidiki empat variasi sudut skeg (0°, 5°, 10°, dan -10°) terhadap
berbagai mode gerakan kapal dengan pendekatan numerik. Simulasi dilakukan
dengan perangkat lunak hidrodinamika yang sesuai, melibatkan tiga arah
gelombang (90°, 135°, dan 180°) dan tiga variasi kecepatan kapal (2, 4, dan 6 knot).
Parameter utama yang dianalisis adalah Response Amplitude Operator (RAO) dan
spektra respons, untuk mengevaluasi sensitivitas gerakan kapal terhadap
gelombang berdasarkan konfigurasi skeg, arah datang gelombang, dan kecepatan
maju kapal.
Hasil analisis menunjukkan bahwa arah gelombang merupakan faktor
dominan dalam memicu gerakan kapal. Gerakan roll paling besar terjadi pada
gelombang melintang (90°), dengan puncak RAO sekitar 14 m/m pada frekuensi
0.7821 rad/s. Pada kondisi ini, skeg 0° menunjukkan performa terbaik dalam
meredam gerakan roll. Namun, pada gelombang miring (135°), konfigurasi skeg 5°
dan 10° lebih efektif meredam roll, terutama pada kecepatan tinggi (6 knot).
Respons roll sangat minim ketika gelombang datang dari arah sejajar (180°). Untuk
gerakan pitch (anggulan), amplitudo sangat kecil pada gelombang 90°, namun
meningkat signifikan pada arah 135° dan menjadi dominan di arah 180°, dengan
puncak RAO mencapai 2.5–3.0 m/m pada frekuensi sekitar 0.5 rad/s. Meskipun
pitch mengalami peningkatan respons pada arah tertentu, variasi sudut skeg tidak
memberikan pengaruh signifikan, kecuali skeg -10° yang menunjukkan redaman
sedikit lebih baik pada gelombang 135°. Gerakan heave juga memperlihatkan
respons besar di semua arah, terutama 90° dan 180°, dengan frekuensi resonansi
sekitar 0.5–0.7 rad/s. Skeg -10° memberikan redaman heave terbaik pada beberapa
kombinasi kecepatan dan arah gelombang.
Untuk mode gerakan lain seperti surge (maju-mundur) dan sway
(menyamping), responsnya relatif kecil dan tidak terlalu terpengaruh oleh
konfigurasi skeg. Gerakan yaw (pekikan horizontal) menunjukkan respons berarti
pada gelombang 90°, dengan skeg 5° memberikan redaman sedikit lebih baik
dibandingkan konfigurasi lainnya. Namun, pada arah gelombang 135° dan 180°,
respons yaw sangat rendah. Secara keseluruhan, RAO menunjukkan bahwa
semakin tinggi gelombang, semakin besar pula amplitudo gerakan kapal, sehingga
desain yang adaptif terhadap kondisi laut ekstrem sangat penting. Simpulan dari
penelitian ini menunjukkan bahwa konfigurasi skeg secara signifikan memengaruhi
performa seakeeping, terutama untuk gerakan roll dan yaw. Skeg 0° sangat efektif
pada gelombang melintang, sedangkan skeg 5° lebih unggul pada gelombang
miring untuk meredam gerakan menyamping. Hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam merancang skeg yang optimal untuk meningkatkan kestabilan dan
keamanan kapal tongkang berdasarkan kondisi operasional yang dihadapi.
Description
Reaploud Repository February_agus
