Model Self-Care Agency pada Perawat dalam Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial pada Pasien Trakeostomi di Instalasi Intensive Care Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Pasien dengan trakeostomi yang dirawat di Instalasi Intensive Care
memiliki risiko tinggi mengalami infeksi nosokomial akibat prosedur invasif,
penggunaan alat bantu napas, serta kompleksitas asuhan keperawatan yang
berkelanjutan. Pencegahan infeksi nosokomial pada kelompok pasien ini sangat
bergantung pada kapasitas perawat dalam menerapkan praktik pencegahan infeksi
secara konsisten, yang tercermin dalam self-care agency. Self-care agency dipahami
sebagai kemampuan perawat dalam mengelola diri secara fisik, kognitif, dan
profesional untuk mempertahankan kualitas asuhan keperawatan yang aman. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyusun model self-care agency perawat
dalam upaya pencegahan infeksi nosokomial pada pasien trakeostomi di Instalasi
Intensive Care Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan
pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh perawat yang bekerja
di Instalasi Intensive Care RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan jumlah
sampel sebanyak 135 perawat yang diikutsertakan menggunakan teknik total
sampling. Variabel penelitian meliputi faktor predisposisi (predisposing factor),
faktor pemungkin (enabling factor), faktor penguat (reinforcing factor), self-efficacy,
dan self-care agency. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial
menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS)
untuk menguji hubungan langsung maupun tidak langsung antar variabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor predisposisi (predisposing
factor) berpengaruh signifikan terhadap self-efficacy dengan nilai t = 2,827 dan p =
0,005, serta memiliki pengaruh langsung yang sangat kuat terhadap self-care agency
dengan nilai t = 48,274 dan p = 0,000. Faktor penguat (reinforcing factor) juga
berpengaruh signifikan terhadap self-efficacy (t = 22,407; p = 0,000), namun tidak
menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap self-care agency (t =
1,050; p = 0,294). Sebaliknya, faktor pemungkin (enabling factor) tidak berpengaruh
signifikan baik terhadap self-efficacy (t = 0,390; p = 0,696) maupun terhadap selfcare agency (t = 1,811; p = 0,070). Selanjutnya, self-efficacy terbukti berpengaruh
signifikan terhadap self-care agency dengan nilai t = 6,429 dan p = 0,000, serta
berperan sebagai mediator pada hubungan antara faktor predisposisi (predisposing
factor) (t = 2,971; p = 0,003) dan faktor penguat (reinforcing factor) (t = 5,566; p =
0,000) dengan self-care agency, sementara peran mediasi pada faktor pemungkin
(enabling factor) tidak terbukti signifikan (p = 0,706). Model struktural yang
dibangun mampu menjelaskan sebagian besar variasi self-care agency perawat, yang
menunjukkan kekuatan model dalam menggambarkan hubungan antar variabel yang
diteliti.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa self-care agency perawat dalam
pencegahan infeksi nosokomial pada pasien trakeostomi terutama ditentukan oleh
faktor predisposisi (predisposing factor) sebagai determinan paling dominan,
khususnya pengetahuan perawat tentang infeksi nosokomial, yang diperkuat melalui
peran self-efficacy sebagai mekanisme kunci. Dukungan organisasi yang tercermin
dalam faktor penguat (reinforcing factor) berperan secara tidak langsung melalui
peningkatan keyakinan diri perawat, sedangkan faktor pemungkin (enabling factor)
tidak memberikan kontribusi yang bermakna. Temuan ini menegaskan pentingnya
strategi peningkatan kapasitas perawat yang berfokus pada penguatan pengetahuan,
keyakinan diri, dan dukungan organisasi untuk meningkatkan kualitas pencegahan
infeksi nosokomial di Instalasi Intensive Care.
Description
Reuploud Repository hasyim Juni 2026
