Afirmasi dan Resistensi dalam Industri Budaya: Studi Sosiologi Musik di Kabupaten Jember

dc.contributor.authorM. Rivaldy Firmansyah
dc.date.accessioned2026-02-19T03:57:11Z
dc.date.issued2025-01-19
dc.descriptionreupload file repositori 19 Februari 2026_Kholif/Keysa
dc.description.abstractPenelitian ini merupakan studi sosiologi musik yang membahas pengaruh industri budaya dengan melihat adanya eksistensi musik mainstream dan sidestream terkhusus dalam skala daerah Kabupaten Jember. Sehingga, topik dalam penelitian ini ialah adanya upaya afirmasi dan resistensi dalam industri budaya, dimana penelitian ini berusaha mengulas tujuan bermusik dan karya musik yang dihasilkan oleh musisi mainstream yakni Sisikitaa dan musisi sidestream yakni Papa Acid. Tujuan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui bagaimana jangkauan industri budaya dalam skala daerah, terkhusus untuk mengetahui bentuk afirmasi dan resistensi terhadap industri budaya musik populer di Jember. Penelitian ini menggunakan grand teori dalam lokus sosiologi musik, yakni Industri Budaya oleh Theodore Adorno, Seni di Era Reproduksi Mekanis oleh Walter Benjamin, dan didukung dengan teori McDonaldisasi oleh George Ritzer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan obeservasi,wawancara, dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara Purposive. Hasil dalam penelitian ini, menunjukkan bagaimana pengaruh dominasi industri budaya yang mengharuskan musisi untuk terikat dengan mekanisme pasar. Hal tersebut menimbulkan kesenjangan „gap‟ antara musisi mainstream dan musisi sidestream. Sisikitaa yang merupakan musisi mainstream, mereka berhasil menciptakan karya musik yang memiliki nilai jual dan menjadi sarana hiburan bagi pendengarnya. Papa Acid yang merupakan musisi sidetream, berusaha menolak industri budaya melalui cara mereka bermusik secara Do It Yourself (DIY) yang bebas tanpa terikat standarisasi. Pengaruh dominasi industri budaya dengan melihat kesenjangan antara musik mainstream dan sidestream terjadi karena adanya perbedaan kepentingan sejauh adanya „fungsi politis‟ pada karya seni. Musik mainstream yang cenderung afirmatif dalam industri budaya yang mengedpankan profit menjadikan musik sebagai ladang untuk mendapatkan keuntungan finansial. Sedangkan musik sidestream cenderung resisten terhadap industri budaya, penolakan tersebut terjadi akibat standarisasi industri budaya hanya akan menjadikan musik kehilangan otentisitas dan nilai estetikanya.
dc.description.sponsorshipDPU : Drs. Joko Mulyono M.Si, Ph.D DPA : Lukman Wijaya Baratha S.Sos, M.A
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/3701
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik
dc.subjectSosiologi Musik
dc.subjectIndustri Budaya
dc.subjectAfirmasi dan Resistensi
dc.titleAfirmasi dan Resistensi dalam Industri Budaya: Studi Sosiologi Musik di Kabupaten Jember
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
M. RIVALDY FIRMANSYAH - 200910302052.pdf
Size:
1.67 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: