Pengaruh Tingkat Kemasakan dan Keberadaan Kulit Biji Terhadap Pertumbuhan Bibit Tanaman Porang (Amorphophallus oncophyllus)

dc.contributor.authorRizky Anugerah Putra
dc.date.accessioned2026-02-23T02:09:03Z
dc.date.issued2023-10-04
dc.descriptionReupload file repository 23 februari 2026_agus/feren
dc.description.abstractTanaman porang atau dengan nama latin (Amorphophallus muelleri) termasuk dalam umbi – umbian yang memiliki kemungkinan serta potensi untuk dikembangkan di Indonesia. Tanaman porang memiliki kandungan glukoma yang cukup tinggi pada umbinya sehingga dapat dijadikan bahan industri makanan, kesehatan maupun industri lainnya. Tanaman porang termasuk tanaman yang dapat tumbuh pada daerah tropis, tanaman ini sangat mudah hidup dia daerah dataran rendah. Tanaman porang banyak dimanfaatkan menjdai sumber daya industri seperti kertas, cat kain katun, mengkilapkan kain, dan bahan imitasi yang memiliki sifat yang lebih baik dari amilum dengan harga yang lebih terjangkau. Umbi tanaman porang dapat dibedakan menjadi 3 yaitu berdasarkan daya rekatnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik, berdasarkan sifat kimianya dapat dimanfaatkan sebagai bahan industri film dan berdasarkan sifatnya yang tidak tembus air tanaman porang dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan tenda, jas hujan, dan sebagainya. Perkecambahan merupakan pengaktifan embrio yang mengakibatkan terbukanya kulit biji dan munculnya tumbuhan muda. Factor yang dapat mempengaruhi dari perkecambahan yaitu dari tingkat kemasakan biji porang yang akan digunakan serta kondisi biji porang yang digunakan dengan adanya pulp dan yang tidak menggunakan pulp. Kemasakan benih porang dapat mempengaruhi ketika benih yang baru saja dipanen mengakibatkan kemasakan benih yang berbeda. Benih yang baik merupakan benih yang sudah matang secara fisiologis. Permasalahan para pertani tanaman porang saat ini adalah peningkatan kebutuhan bahan baku industri dan permintaan ekspor tanaman porang yang semakin lama meningkat ini tidak sejalan dengan produksi tanaman porang masih rendah, hal tersebut terjadi karena produksi secara konvensional memerlukan waktu yang cukup lama akibat bibit tanaman porang selama ini hanya didapatkan dari bubil yang muncul setiap musimnya sehingga peningkatan kebutuhan umbi porang masih tergantung pada potensi alam sehingga pembudidayaannya belum intensif. Keberhasilan suatu budidaya dengan memanfaatkan biji tersebut dengan melakukan penanganan yang tepat agar dapat menghasilkan bibit tanaman berkualitas untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman porang. Melalui pengujian perkecambahan dapat melihat keberhasilan perbanyakan tumbuhan dengan biji dengan melihat factor yang dapat mempengaruhi biji seperti kemasakan biji dan pulp pada biji. Pengaruh kemasakan biji tanaman porang dapat berpengaruh dalam hasil perkecambahan. Pengaruh kemasakan biji yang dilihat dari umur panen biji diantaranya biji yang masih muda, biji dengan umur sedang dan biji yang telah masak dapat mempengaruhi hasil perkecambahan. Benih yang dipanen ketika masak fisiologis akan menunjukkan pertumbuhan dan produksi yang optimal sedangkan benih yang dipanen sebelum maupun sesudah masak fisiologis pertumbuhan dan produksinya tidak akan optimal. Hal tersebut dikarenakan benih belum sempurna pada panen sebelum masak fisiologis atau telah memasuki masa penuaan pada panen sesudah masak fisiologis (Joko dan Ubad, 2019). Waktu Penelitian ini dilakukan selama empat bulan di mulai pada bulan Januari 2023 sampai dengan bulan Juni 2023. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jember. Alat-alat yang digunakan penelitian antara lain keranjang, sprayer, labu enlemeyer, tissue, plastic transparan, pisau, penggaris, tray dan autoclave. Bahan-bahan yang digunakan penelitian antara lain benih tanaman porang dengan umur dan kemasakan yang berbeda sebagai bahan objek penelitian, kemasakan dan kondisi biji porang yang berbeda sebagai factor dalam penelitian, media tanam berupa kertas merang, alcohol, clorox dan aquades. Rancangan penelitian pada penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap faktorial (RALF) yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama dengan kemasakan biji porang yang berbeda pada posisi tongkol buah yang berbeda. Pelaksanaan penelitian meliputi penyeleksian biji porang, sterilisasi biji porang, persiapan media perkecambahan biji, perkecambahan biji porang, dan pemeliharaan tanaman porang. Variabel pengamatan yang diamati dalam penelitian ini diantara yaitu uji daya perkecambahan, tinggi tanaman, kanopi tanaman, berat basah tanaman, berat kering tanaman, jumlah akar tanaman, diameter umbi tanaman dan analisis tanaman. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan pada faktor keberadaan kulit biji mempunyai nilai tertinggi pada parameter tinggi tanaman sebesar 18,63 cm, pada kanopi daun sebesar 16,44cm, berat basah sebesar 15,11 g, berat kering sebesar 4,96 g, jumlah akar sebesar 24,51, dan pada diameter umbi tanaman sebesar 3,01 cm. Pada faktor kemasakan biji tidak menunjukkan ada perbedaan pada semua parameter
dc.description.sponsorshipDPU: Ir. Didik Pudji Restanto Ms., Ph.D. DPADr. Ir. Denna Eriani Munandar, MP. :
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/4023
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Pertanian
dc.subjectPorang
dc.subjectKeberadaan Kulit Biji
dc.titlePengaruh Tingkat Kemasakan dan Keberadaan Kulit Biji Terhadap Pertumbuhan Bibit Tanaman Porang (Amorphophallus oncophyllus)
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
RIZKY ANUGERAH PUTRA - 191510101037.pdf
Size:
1.3 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: