Gaya Hidup Thrift Shoping (Studi Kasus pada Konsumen Pakaian Bekas Pasar Cimol Gedebage)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Budaya konsumtif telah mendorong peningkatan daya beli masyarakat, yang seringkali didasari keinginan daripada kebutuhan. Perilaku ini semakin berkembang seiring perubahan gaya hidup, di mana konsumsi tidak lagi sekadar tentang produk, melainkan juga tentang upaya untuk menunjukkan status sosial dan prestise melalui gaya hidup mewah, terutama di era modern yang menekankan budaya pamer (a culture of spectacle). Hal ini turut memicu pesatnya perkembangan dunia fashion di Indonesia.
Perkembangan tren fashion tentunya membawa dampak positif dan negatif. Bagi kalangan menengah ke bawah, membeli pakaian bekas bermerek atau thrift menjadi alternatif terjangkau untuk tetap tampil trendi dan menciptakan prestise. Fenomena thrifting yang populer ini menyimpan ironi yang mengkhawatirkan. Mayoritas pakaian bekas yang dijual merupakan barang impor ilegal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya peningkatan nilai impor pakaian bekas di Indonesia di tahun 2024. Fakta ini menjadi sorotan tajam, mengingat pemerintah telah secara tegas melarang impor pakaian bekas demi melindungi dan membangkitkan industri tekstil dalam negeri.
Praktik jual beli pakaian bekas bukanlah fenomena baru, melainkan telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat sejak lama. Salah satu sentra aktivitas thrifting yang sangat populer dan legendaris adalah Pasar Cimol Gedebage Kota Bandung. Pasar ini menjadi daya tarik utama bagi para pencari barang unik karena menawarkan beragam pilihan pakaian bekas dengan kualitas yang baik, dan berasal dari merek ternama. Penelitian ini berfokus pada eksplorasi mendalam mengenai gaya hidup thrift shopping di kalangan konsumen Pasar Cimol Gedebage. Penelitian ini secara spesifik menguraikan motif-motif yang melatarbelakangi keputusan pembelian mereka, sekaligus menganalisis pola perilaku konsumen yang terbentuk dari aktivitas belanja unik ini.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami secara mendalam makna dan pengalaman individu terkait thrift shopping. Penentuan lokasi menggunakan teknik purposive area, memilih Pasar Cimol Gedebage Kota Bandung karena merupakan salah satu pasar pakaian bekas terbesar dan tertua di Bandung. Partisipan penelitian adalah konsumen dan pedagang pakaian bekas, dengan penentuan partisipan menggunakan teknik snowball sampling. Kriteria konsumen adalah mereka yang telah membeli pakaian thrift minimal tiga kali di Pasar Cimol Gedebage. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan konsumen dan pedagang, observasi langsung di lokasi, dan metode dokumen seperti data impor pakaian bekas, serta foto kondisi pasar dan kegiatan jual beli. Analisis data meliputi pembuatan daftar ekspresi, reduksi, pengelompokan ekspresi, validasi, dan deskripsi tema. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi sumber.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup thrift shopping adalah fenomena konsumsi multidimensional yang terintegrasi dalam cara hidup konsumen, didorong oleh motif kompleks yang mencakup aspek emosional dan impulsif. Motif emosional dipicu oleh tren thrifting di media sosial, keinginan akan prestise merek, serta daya tarik keunikan dan eksklusivitas produk. Sensasi berburu juga memberikan kepuasan emosional. Pembelian impulsif dipicu oleh atribut produk dan potongan harga yang menarik. Pola perilaku konsumen thrifting dimotivasi oleh pencarian prestise, peningkatan kepercayaan diri, dan kepuasan batiniah. Mereka mencari merek terkenal untuk prestise, menggunakan pakaian bekas sebagai media ekspresi gaya pribadi, dan menunjukkan loyalitas serta semangat eksplorasi, yang mencerminkan kepuasan menyeluruh dari pengalaman belanja itu sendiri.
Description
Reupload file Repositori 11 Februari 2026_Kholif/Keysa
