Gerakan Melindungi Kepulauan Diaoyu di Beijing, China Tahun 2012
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Penelitian ini akan membahas mengenai gerakan sosial yang terjadi di China,
khususnya di Beijing pada tahun 2012. Sengketa teritorial atas Kepulauan Diaoyu
telah menjadi konflik jangka panjang antara kedua negara yang dipicu oleh
perbedaan klaim historis antara kedua negara. Pada tahun 2012 isu sengketa
teritorial ini memanas ketika pemerintah Jepang membeli beberapa pulau dari
Kepulauan Diaoyu, hal tersebut memicu gelombang demonstrasi besar-besaran di
berbagai kota di China, termasuk di Beijing. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui latar belakang terjadinya Gerakan Melindungi Kepulauan Diaoyu
tahun 2012, mengidentifikasi bagaimana aksi gerakan tersebut terjadi, dan
mengalisis dampak dari gerakan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian sejarah Louis Gottschalk yang meliputi heuristik, kritik sumber,
interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah
sosial dengan menyoroti dinamika gerakan protes sebagai manifestasi identitas
kolektif dan nasionalisme masyarakat. Penelitian ini memanfaatkan sumber
primer berupa arsip berita, dokumen pemerintah, dan video dokumenter. Sumber
sekunder dalam penelitian ini menggunakan jurnal ilmiah dan literatur akademik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan ini tidak hanya sebagai ekspresi
kemarahan terhadap Jepang, tetapi juga sebagai simbol nasionalisme. Pemerintah
China secara tidak langsung membiarkan demonstrasi berlangsung sebagai bentuk
tekanan terhadap Jepang, namun tetap melakukan kontrol agar tidak terjadi
eskalasi yang tidak diinginkan. Demonstrasi yang berlangsung di Beijing dan
kota-kota lain di China berdampak terhadap hubungan bilateral antara China dan
Jepang. Banyak perusahaan Jepang mengalami kerusakan fasilitas dan penurunan
produksi. Aksi protes terhadap Jepang yang terjadi termasuk aksi boikot terhadap
produk buatan Jepang. Gerakan ini juga menunjukkan bagaimana isu kedaulatan
dapat dijadikan alat mobilisasi nasionalisme di era modern.
