Pengaruh Perbandingan Molar Pelarut Natural Deep Eutectic Solvent terhadap Kapasitas Antioksidan Ekstrak Biji Kopi Hijau Robusta (Coffea canephora)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Farmasi
Abstract
Radikal bebas adalah molekul reaktif yang memiliki elektron tidak
berpasangan, yang dapat merusak sel tubuh. Stres oksidatif terjadi ketika jumlah
radikal bebas berlebihan atau kadar antioksidan yang menurun, yang dapat
dikendalikan oleh antioksidan. Antioksidan bekerja untuk mencegah oksidasi
dengan menstabilkan radikal bebas. Antioksidan terbagi menjadi dua jenis, yaitu
antioksidan alami dan sintesis. Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai
antioksidan alami adalah biji kopi robusta karena kandungan senyawa fenolat
berupa asam klorogenat sebagai senyawa utama.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbandingan molar
komponen Natural Deep Eutectic Solvents (NADES) 1:1 ; 1:2 ; 1:3 ; 2:1 ; 3:1
terhadap kapasitas antioksidan ekstrak NADES betaine-triethylene glycol biji kopi
hijau robusta. Betaine berperan sebagai hydrogen bond acceptor (HBA) dan
triethylene glycol (TEG) berperan sebagai hydrogen bond donor (HBD). Metode
ekstraksi yang digunakan adalah Ultrasound-Assisted Extraction (UAE), yang
memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk menciptakan kavitasi yang mampu
merusak dinding sel tanaman sehingga senyawa bioaktif dapat lebih mudah keluar
dan larut dalam pelarut NADES.
Pengujian kapasitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH
(2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl), yang bekerja berdasarkan kemampuan senyawa
antioksidan dalam mendonorkan atom hidrogen atau elektron untuk mereduksi
radikal bebas DPPH menjadi bentuk non-radikal. Parameter yang digunakan untuk
mengukur kapasitas antioksidan adalah nilai IC50
, yaitu konsentrasi ekstrak yang
dibutuhkan untuk mereduksi 50% kapasitas radikal DPPH. Semakin kecil nilai
IC50
, maka semakin tinggi kapasitas antioksidan suatu ekstrak.
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa data IC50 kapasitas antioksidan
berdistribusi normal dan homogen, sehingga dapat dianalisis dengan One Way
ANOVA dan dilanjutkan dengan uji post hoc LSD. Hasil uji menunjukkan jika
terdapat perbedaan signifikan nilai IC50 antara ekstrak dengan berbagai
perbandingan pelarut NADES dan kuersetin. Ekstrak dengan pelarut
betaine-triethylene glycol NADES rasio 1:2 memiliki kapasitas antioksidan
tertinggi (IC50 3603,876 ± 130,370 μg/mL), sedangkan rasio 2:1 memiliki
kapasitas terendah (IC50 5413,138 ± 215,648 μg/mL). Perubahan rasio antara
HBA dan HBD mempengaruhi sifat fisikokimia larutan. Viskositas yang terlalu
tinggi, dapat menghambat difusi senyawa aktif, sedangkan viskositas yang terlalu
rendah, NADES akan kehilangan sifat eutektiknya. Berdasarkan hasil pengujian,
pelarut dengan rasio 1:2 diduga memiliki kombinasi optimal antara HBA dan HBD
serta viskositas yang paling sesuai untuk mengekstraksi lebih banyak senyawa
antioksidan dan menghasilkan kapasitas antioksidan tertinggi dibandingkan
pelarut lainnya.
Nilai IC50 ekstrak NADES biji kopi hijau robusta lebih tinggi dibandingkan
kuersetin sebagai kontrol positif. Hal ini, diduga karena terdapat senyawa lain
dalam ekstrak yang tidak memiliki aktivitas antioksidan. Selain itu, ekstrak
NADES juga mempunyai nilai yang lebih tinggi dari pada ekstrak dengan pelarut
organik karena tidak adanya proses pemisahan pelarut pada ekstrak NADES
menyebabkan senyawa aktif belum terkonsentrasi secara optimal.
Description
Entry oleh Arif 2026 Februari 26
