Determinan Kekambuhan (Relaps) Tuberkulosis di Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Kekambuhan tuberkulosis merupakan kondisi di mana pasien yang sebelumnya telah dinyatakan sembuh atau menyelesaikan pengobatan kembali terdiagnosis positif. Faktor yang memengaruhi kekambuhan ini meliputi reinfeksi eksogen, reaktivasi endogen, resistensi obat, serta aspek sosial seperti kebiasaan merokok dan penyakit penyerta seperti diabetes melitus dan HIV. Kabupaten Jember, angka kekambuhan tuberkulosis meningkat dari 4,12% pada tahun 2022 menjadi 4,65% pada tahun 2023. Peningkatan ini menjadi tantangan dalam mencapai target eliminasi tuberkulosis nasional pada tahun 2030.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kekambuhan tuberkulosis di Kabupaten Jember pada tahun 2022-2024. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Data didapatkan dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) di 15 puskesmas Kabupaten Jember. Pemilihan sampel menggunakan teknik klaster sampling yang dilakukan berdasarkan klasifikasi jumlah pasien, dengan klasifikasi rendah berada pada nilai presentil <25 atau jumlah kasus <120, klasifikasi sedang berada pada nilai presentil 25%-75% atau jumlah kasus 121-225, dan klasifikasi tinggi berada pada nilai presentil >75% atau jumlah kasus >225. Data akhir didapatkan 607 pasien dari 15 puskesmas di Kabupaten Jember. Analisis dilakukan melalui univariat untuk melihat distribusi frekuensi pada setiap variabel, bivariat menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antar variabel dan multivariat menggunakan uji regresi logistik berganda untuk mengetahui pengaruh secara simultan dari beberapa variabel independen terhadap kekambuhan tuberkulosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada usia produktif (79,2%), berjenis kelamin laki-laki (53,2%), tidak bekerja (52,6%), tidak merokok (54,9%), tidak memiliki penyakit penyerta (80,4%), dan memiliki riwayat kontak dengan penderita TB (69,7%). Analisis menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kekambuhan tuberkulosis adalah usia produktif dengan nilai (POR 1,901 95%CI 1,13-3,19 p-value 0,019), status pekerjaan (POR 2,527 95%CI 1,71-3,71 p-value <0,001), kebiasaan merokok (POR 1,826 95%CI 1,25-1,18 p-value 0,002), penyakit penyerta seperti diabetes melitus dan HIV (POR 1,715 95%CI 1,10 2,65 p-value 0,021), serta riwayat kontak (POR 0,458 95%CI 0,31-0,42 p-value <0,001). Hasil uji regresi logistik berganda didapatkan tiga variabel yang memiliki hubungan dengan kejadian kekambuhan tuberkulosis yaitu variabel pekerjaan (aPOR 2,576 95%CI 1,73-3,81 p-value <0,001) artinya pasien yang bekerja 2,6 kali berisiko lebih besar terjadi kekambuhan. Variabel penyakit penyerta (aPOR 1,685 95%CI 11,06-2,65 p-value 0,025) artinya pasien yang memiliki penyakit penyerta 1,7 kali berisiko lebih besar terjadi kekambuhan. Variabel riwayat kontak (aPOR 0,440 95%CI 0,29-0,65 p-value <0,001) artinya pasien yang memiliki riwayat kontak tidak meningkatkan risiko secara signifikan terhadap kekambuhan tuberkulosis. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor pekerjaan, penyakit penyerta, dan riwayat kontak merupakan determinan utama kekambuhan tuberkulosis di Kabupaten Jember. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan yang lebih intensif bagi pasien, terutama bagi mereka yang bekerja dan memiliki penyakit penyerta. Selain itu, pemantauan ketat terhadap pasien tanpa riwayat kontak juga diperlukan untuk mencegah kekambuhan. Dengan strategi pencegahan yang lebih baik, diharapkan angka kekambuhan tuberkulosis dapat dikurangi dan target eliminasi tuberkulosis pada tahun 2030 dapat tercapai.
Description
Reupload File Repository_Yudi
:: Finalisasi Repositori File 3 Juni 2026_Kurnadi
