Perburuan Hiu di Indonesia dari Perspektif Ekofeminisme

dc.contributor.authorDevina Shabillah Putri
dc.date.accessioned2026-06-23T02:34:26Z
dc.date.issued2024-05-12
dc.descriptionReuploud file repositori 12 Mei 2026_Firli Approved by Teddy
dc.description.abstractPenelitian ini membahas tentang perburuan hiu di Indonesia dari perspektif ekofeminisme, dengan fokus untuk menjawab mengapa praktik perburuan hiu masih berlanjut meskipun telah ada larangan dari pemerintah dan organisasi internasional. Perburuan hiu di Indonesia telah berlangsung sejak tahun 1970-an, dengan angka tangkapan yang tinggi setiap tahunnya. Akibatnya, populasi hiu di Indonesia mengalami penurunan signifikan, dan beberapa spesies hiu kini berada di ambang kepunahan. Penelitian ini menjadi penting karena hiu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, dan keberadaannya perlu dilestarikan demi kelangsungan hidup alam dan manusia. Selain itu, penelitian ini berfungsi sebagai media pembelajaran bagi masyarakat yang masih awam tentang pentingnya hiu bagi kehidupan lingkungan. Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis permasalahan perburuan hiu di Indonesia dengan menggunakan perspektif ekofeminisme, terutama dalam mengkaji hubungan antara patriarki dan kapitalisme dalam konteks perburuan hiu. Patriarki dan kapitalisme berkolaborasi dalam memperkuat eksploitasi terhadap lingkungan, termasuk hiu, dengan memberikan kekuasaan dominan kepada lakilaki sebagai aktor utama perburuan dan memotivasi jalannya eksploitasi demi keuntungan ekonomi. Di sisi lain, perempuan seringkali hanya berperan di belakang layar dan bertugas untuk mengelola hasil tangkapan karena dominannya budaya patriarki dan tekanan ekonomi yang mereka rasakan. Di samping itu, keterlibatan perempuan dalam rantai perburuan menunjukkan adanya kontradiksi antara ekofeminisme esensialis dan realitas sosial di masyarakat pesisir Indonesia. Meskipun ekofeminisme esensialis mengasumsikan bahwa perempuan secara alami dekat dengan alam dan akan melindungi lingkungan, penelitian ini membuktikan bahwa perempuan di masyarakat pesisir juga terlibat dalam upaya eksploitasi alam, khususnya perburuan hiu. Tekanan budaya patriarki dan kebutuhan ekonomi memaksa perempuan untuk turut serta dalam pengolahan dan perdagangan hasil tangkapan hiu, meskipun peran mereka tidak sebesar lakilaki. Seperti dielaborasi dalam pembahasan di bab 4, berlanjutnya perburuan hiu tidak lepas dari dominannya budaya patriarki dan kapitalisme. Patriarki dan kapitalisme bersama-sama menciptakan sistem di mana larangan perburuan hiu tidak efektif karena tidak dapat mengatasi struktur kekuasaan dan ekonomi yang mendasari kegiatan ini. Lebih lanjut, dalam kondisi ekonomi yang menekan, perempuan di komunitas pesisir tidak mempunyai pilihan lain selain terlibat dalam kegiatan yang bertentangan dengan prinsip ekofeminisme. Ini mengungkap bahwa anggapan bahwa perempuan secara alami adalah pelindung alam tidak selalu relevan, karena peran mereka dalam eksploitasi alam lebih ditentukan oleh tekanan sosial dan ekonomi daripada oleh naluri alami. Pada akhirnya, penelitian ini mengkritik pandangan ekofeminisme yang esensialis dan mengungkapkan bagaimana patriarki dan kapitalisme mendominasi struktur sosial dan ekonomi yang memfasilitasi berlanjutnya perburuan hiu di Indonesia.
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/9760
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
dc.subjectEkofeminisme
dc.subjectHiu
dc.subjectPerburuan Hiu
dc.titlePerburuan Hiu di Indonesia dari Perspektif Ekofeminisme
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
DEVINA SHABILLAH PUTRI - 180910101034.pdf
Size:
923.71 KB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: