Konstruksi Pengetahuan Mitigasi Perubahan Iklim dengan Prinsip Program Kampung Iklim (Studi Kasus : RW 09, Kelurahan Bendogerit)
| dc.contributor.author | Devy Kusuma Dian Andani | |
| dc.date.accessioned | 2026-06-22T02:46:42Z | |
| dc.date.issued | 2025-10-06 | |
| dc.description | Reuploud file repositori 12 Mei 2026_Firli finalisasi 22 juni 2026 Rudi H | |
| dc.description.abstract | Perubahan iklim di Kota Blitar menimbulkan kekeringan, peningkatan sampah, dan penyakit berbasis lingkungan, sehingga Pemkot Blitar menerapkan Proklim sebagai strategi mitigasi. Wilayah RW 09, Kelurahan Bendogerit dipilih sebagai lokasi penelitian karena masyarakatnya konsisten sejak 2012 menjalankan aksi mitigasi perubahan iklim samai memperoleh apresiasi Proklim Lestari di tahun 2024 kemarin. Penelitian ini bertujuan menggambarkan konstruksi pengetahuan mitigasi perubahan iklim dengan teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sementara, data penelitian ini dikumpulkan melalui tahap observasi, wawancara, dan dokumentasi kepada beberapa informan. Contohnya, pengurus RW 09, kelompok kerja lingkungan, masyarakat yang aktif dalam kegiatan mitigasi, serta pihak stakeholder. Sebagaimana, informan tersebut dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun teknik keabsahan data yang digunakan peneliti dalam menguji kebenaran data yaitu triangulasi sumber, metode, dan teori, serta terdapat analisis data melalui tahap pengorganisasian, reduksi, dan penyajian data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi pengetahuan mitigasi terbentuk melalui tiga tahap dialektis. Salah satunya yaitu tahap eksternalisasi, yang diwujudkan dalam aksi nyata mitigasi perubahan iklim. contoh konkretnya yaitu penghijauan, pengelolaan sampah, pembuatan biopori, pemanfaatan urine kelinci, konservasi energi, pengolahan limbah makanan menjadi pakan ternak, serta pembentukan kelembagaan sosial seperti Bank Sampah, KWT, Pokja Proklim, dan kader Jabastik. Sementara, tahap kedua ialah obyektivasi terlihat ketika aksi dan kelembagaan tersebut diterima sebagai norma kolektif, dilegitimasi oleh prinsip Proklim, serta diakui melalui penghargaan nasional, serta tahap akhir yaitu internalisasi. Tahap ini berlangsung ketika nilai dan prinsip Proklim dijadikan pedoman hidup masyarakat, diwariskan dalam keluarga, kegiatan komunitas, maupun pendidikan nonformal, hingga membentuk identitas ekologis RW 09. Proses pembentukan pemahaman makna atau konstruksi sosial ini, menghasilkan beberapa temuan yaitu terdapat kelebihan maupun kekurangan. Kelebihan terletak pada kemampuan masyarakat RW 09 dalam menjelaskan keterpaduan kearifan lokal, kepemimpinan, dan dukungan pemerintah. Sedangkan, kekurangannya terdapat pada keterbatasan partisipasi sebagian warga serta sarana prasarana yang belum optimal. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa analisis teori Berger dan Luckman menegaskan bahwa mitigasi di RW 09 bukan hanya inovasi teknis, melainkan konstruksi sosial yang lahir dari interaksi, tradisi, dan nilai bersama, sehingga menciptakan realitas ekologis kolektif yang berkelanjutan. | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing Utama : Drs. Joko Mulyono, M.Si. Dosen Pembimbing Anggota : Dr. Dodik Harnadi, S.H.I., M.Sosio | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/9610 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik | |
| dc.subject | Mitigasi | |
| dc.subject | Program Kampung Iklim | |
| dc.subject | Perubahan Iklim | |
| dc.subject | Pengetahuan Masyarakat | |
| dc.title | Konstruksi Pengetahuan Mitigasi Perubahan Iklim dengan Prinsip Program Kampung Iklim (Studi Kasus : RW 09, Kelurahan Bendogerit) | |
| dc.type | Other |
