Budaya Jawa dalam Novel Sang Maha Sentana Karya Filiananur Kajian : Antropologi Sastra

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Budaya

Abstract

Kajian ini dilatarbelakangi oleh budaya Jawa yang kaya dengan nilai-nilai kehidupan dan norma sosial yang mempengaruhi kehidupan masyarakatnya. Berbagai aspek dalam budaya Jawa mencerminkan kompleksitas relasi, meliputi konflik dalam hubungan percintaan, permasalahan sosial, hingga tradisi dan ritual yang diwariskan secara turun-temurun. Fenomena ini terefleksi dalam novel Sang Maha Sentana karya Filiananur, yang merepresentasikan kehidupan masyarakat Jawa melalui beragam aspek budayanya, dan menampilkan kepercayaan lokal yang masih kuat melekat dalam keseharian. Kajian ini bertujuan untuk mengungkap keterkaitan antarunsur struktural dan aspek-aspek budaya Jawa yang terkandung dalam novel. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Objek material yang dikaji adalah novel Sang Maha Sentana karya Filiananur (2023). Objek formal pada penelitian ini berupa keterkaitan antarunsur struktural dan aspek-aspek budaya Jawa yang terdapat dalam novel tersebut. Satuan analisis berupa kalimat, paragraf, maupun wacana yang menunjukkan unsur struktural, dan aspek-aspek budaya Jawa. Hasil analisis struktural pada novel Sang Maha Sentana menunjukkan hubungan yang erat antarunsur, yaitu tema, penokohan dan perwatakan, konflik, dan latar. Tema mayor berfokus pada perjuangan seorang pria dalam menemukan cinta sejati di antara dua wanita yang mencintainya. Tema ini berkaitan langsung dengan Sentana sebagai tokoh utama, yang menghadapi dilema percintaan antara tokoh bawahan, yaitu Saraswati dan Lembah. Perkembangan karakter para tokoh dipengaruhi oleh konflik-konflik yang muncul, yang juga terkait dengan tema minor, seperti patriarki, dampak perdagangan manusia terhadap korban, konflik keluarga akibat perebutan harta, dan keikhlasan hati dalam merelakan orang yang dicintai. Tema-tema minor ini terjadi dalam interaksi antara tokoh utama dan tokoh bawahan. Latar tempat yang dominan adalah Yogyakarta pada tahun 1888–1889, memperkuat cerita dengan memberikan gambaran jelas tentang lingkungan tersebut. Latar sosial yang digambarkan mencerminkan kehidupan keluarga priayi, mencakup status sosial, pendidikan, dan pergaulan golongan priayi. Aspek sosial ini mendukung konflik dalam cerita dan memberikan pemahaman mengenai latar belakang budaya Jawa yang mempengaruhi interaksi antartokoh. Hasil analisis antropologi sastra menunjukkan adanya aspek-aspek budaya Jawa dalam novel Sang Maha Sentana. Analisis difokuskan pada beberapa aspek, yaitu tradisi, ritual, falsafah, dan mitos yang ada dalam cerita. Tradisi masyarakat Jawa yang digambarkan dalam novel, meliputi tradisi perjodohan, pingitan, poligami akibat kemandulan, kenduren, pengobatan tradisional, kepercayaan terhadap ilmu gaib, dan tradisi mlaku ndhodhok. Ritual budaya Jawa yang ditampilkan mencakup ritual sedulur papat lima pancer, dan rangkaian ritual panggih (kembang mayang, balangan gantal, ngidak endhok, ngunjuk rujak degan, sinduran, dan sungkeman). Falsafah masyarakat Jawa yang terdapat dalam novel, yaitu tresna iku jalaran saka kulina, bibit, bebet, bobot, dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira, sagendhong sepikul, sabar darana awatak sagara, urip iku urup, sadumuk bathuk sanyari bumi ditohi pati, tega larane ora tega patine, alon-alon waton kelakon, serta donya ora mung sagodhong kelor. Falsafah-falsafah ini menjadi pedoman hidup masyarakat Jawa dalam berinteraksi sehari-hari dan membentuk karakter khas orang Jawa. Aspek mitos masyarakat Jawa yang tercermin dalam novel ini, meliputi mitos Dewi Sri, mitos patung loro blonyo, mitos Dewi Nawang Wulan, mitos wayang Puntadewa dan Krisna, mitos wayang Gareng, mitos perhiasan perak, serta mitos terhadap keris.

Description

Reupload file repositori 6 februari 2026_ratna/dea

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By