Politik dan Negosiasi Petani Hortikultura Desa Nangerang dalam Mencapai Keseimbangan Keuntungan Masa Panen

Loading...
Thumbnail Image

Journal Title

Journal ISSN

Volume Title

Publisher

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Abstract

Pertanian hortikultura merupakan salah satu cabang pertanian yang berfokus pada tanaman budidaya seperti tanaman cabai, tomat, terong, timun, bawang merah, kacang panjang, dan lain sebagainya. Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat telah memfokuskan perkembangan pertanian hortikultura tersebut dengan mengupayakan optimalisasi produktivitas hasil pertanian. Salah satu wilayah yang menjadi fokus pengembangannya adalah Desa Nangerang, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta. Dalam proses pertanian hortikultura yang terjadi di Desa Nangerang, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, terdapat peran dari empat aktor penting yang terlibat di dalamnya. Aktor tersebut yaitu petani hortikultura, kios dan/atau toko pertanian, perusahaan benih, serta pemerintah desa. Hubungan dan interaksi yang terjalin antar keempat aktor pertanian itu pun dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, dan politik secara kompleks. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji permasalahan terkait politik dan negosiasi penghidupan petani hortikultura di Desa Nangerang dalam sudut pandang etnografi. Melalui sudut pandang etnografi, digambarkan bagaimana hubungan dan interaksi antar keempat aktor pertanian hortikultura membentuk adanya politik dan negosiasi penghidupan yang dapat mempengaruhi distribusi keuntungan dalam proses pertanian. Konsep teori Ekologi-Politik Keberlanjutan Ian Scoones serta konsep teori Penilaian Subjektif Jan Douwe van der Ploeg pun digunakan sebagai acuan. Kedua konsep teori itu saling berkaitan satu sama lain dalam mengkaji penghidupan para petani di mana konsep teori Ekologi-Politik Keberlanjutan memandang masalah keberlanjutan penghidupan petani dari sudut pandang sosial, politik, dan ekologi yang luas, sedangkan konsep teori Penilaian subjektif memandang bahwa pemaknaan atau penilaian petani sebagai individu terhadap suatu kondisi menjadi faktor penentu mereka untuk mengambil keputusan dalam mengelola usaha pertanian. Penggunaan dua konsep teori tersebut memberikan gambaran lebih luas dalam memahami masalah pertanian yang dihadapi oleh petani hortikultura di Desa Nangerang, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam hubungan dan interaksi yang terjalin antar keempat aktor pertanian, petani hortikultura berada dalam posisi yang cenderung merugikan. Hal itu dikarenakan adanya dominasi perusahaan benih serta pemerintah yang mempengaruhi akses dan kontrol petani hortikultura terhadap sumber daya penghidupan. Adanya upaya optimalisasi produktivitas hasil pertanian hortikultura pun kemudian membuat para petani menjadi sangat bergantung pada penggunaan benih pertanian hibrida serta pupuk kimia bersubsidi. Sebagai aktor pertanian, para petani perlu menyeimbangkan antara proses produksi alam dengan proses reproduksi alam agar mereka dapat mencapai suatu penghidupan yang berkelanjutan. Namun dengan adanya dominasi dari perusahaan benih serta pemerintah, para petani justru digiring untuk berfokus pada proses produksi alam saja dan mengesampingkan proses reproduksi alam. Hal itu kemudian menunjukkan adanya kesenjangan dalam proses pertanian hortikultura yang terjadi di Desa Nangerang, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah para petani harus memiliki strategi adaptasi serta sistem pengelolaan usaha yang baik agar mereka dapat menghindari risiko kerugian dari kesenjangan yang terjadi. Petani hortikultura pun berhak untuk mendapatkan keuntungan yang setimpal dengan usaha dan upaya yang telah mereka kerahkan dalam menjalankan penghidupan.

Description

Reupload file repository 30 Januari 2026_Ratna

Citation

Endorsement

Review

Supplemented By

Referenced By