Pengaruh Modeling Based Learning (MBL) terhadap Kemampuan Berpikir Mekanistik Siswa pada Materi Perpindahan Kalor secara Konduksi di SMA
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Abstract
Pembelajaran fisika tidak hanya menuntut siswa menguasai rumus, tetapi
juga memahami proses yang mendasari suatu fenomena. Salah satu materi yang
memerlukan pemahaman mendalam adalah perpindahan kalor secara konduksi.
Pada materi ini, siswa perlu menghubungkan gejala yang dapat diamati secara
langsung, seperti gagang sendok yang ikut panas ketika salah satu ujungnya
dipanaskan, dengan proses mikroskopis berupa getaran atom, tumbukan
antarpartikel, pergerakan elektron bebas, dan perpindahan energi. Namun, siswa
umumnya masih menjelaskan fenomena konduksi secara makroskopis dan belum
mampu menguraikan hubungan sebab-akibat yang mendasarinya. Kemampuan
untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu fenomena terjadi disebut
kemampuan berpikir mekanistik. Kemampuan ini melibatkan kegiatan
mendeskripsikan fenomena, mengidentifikasi kondisi awal, menentukan entitas dan
aktivitas yang terlibat, menjelaskan sifat serta susunan entitas, dan menghubungkan
seluruh komponen dalam rangkaian sebab-akibat yang runtut. Hasil wawancara
dengan guru fisika di SMA Negeri 1 Tenggarang menunjukkan bahwa
pembelajaran masih banyak menggunakan ceramah dan diskusi, sementara
kemampuan berpikir mekanistik belum pernah diukur secara khusus. Selain itu,
Modeling Based Learning belum pernah diterapkan dalam pembelajaran fisika di
sekolah tersebut. Modeling Based Learning merupakan pembelajaran yang
melibatkan siswa dalam membangun, menguji, memperbaiki, dan menerapkan
model ilmiah. Melalui proses tersebut, siswa tidak hanya menerima penjelasan dari
guru, tetapi juga menyusun representasi sendiri untuk menjelaskan fenomena.
Model pembelajaran ini dinilai sesuai untuk materi konduksi karena dapat
membantu siswa menghubungkan fenomena makroskopis dengan mekanisme
mikroskopis. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan
mengetahui pengaruh MBL terhadap kemampuan berpikir mekanistik siswa serta
menganalisis kemunculan indikator kemampuan berpikir mekanistik selama proses
pembelajaran.
Penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 1 Tenggarang pada semester genap
tahun ajaran 2025/2026. Penelitian menggunakan metode campuran dengan desain
explanatory sequential, yaitu pengumpulan dan analisis data kuantitatif yang
dilanjutkan dengan analisis data kualitatif. Tahap kuantitatif menggunakan quasiexperimental design dengan bentuk non-equivalent control group design. Sampel
penelitian terdiri atas 72 siswa kelas XI, yaitu 36 siswa kelas XI H sebagai kelas
eksperimen dan 36 siswa kelas XI I sebagai kelas kontrol. Kelas eksperimen
memperoleh pembelajaran menggunakan MBL, sedangkan kelas kontrol
menggunakan Problem Based Learning. Data kuantitatif diperoleh melalui soal
uraian Pretest dan Posttest yang mengukur kemampuan siswa menjelaskan
mekanisme konduksi. Jawaban siswa diklasifikasikan ke dalam empat level, yaitu
non-mechanistic, basic, intermediate, dan advanced. Data dianalisis menggunakan
statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro–Wilk, dan uji Mann–Whitney U. Data
kualitatif diperoleh melalui jawaban tertulis dan gambar model siswa pada LKPD
berbasis lima fase MBL, yaitu problematizing, soliciting the explanation and explicit elicitation of the model, facilitating acquisition of new evidence or
reexamination of phenomena, guiding a collective negotiation and synthesis of
ideas into a final consensus model, serta promoting transference of the consensus
model component. Analisis data kualitatif dilakukan melalui reduksi data dan
klasifikasi indikator kemampuan berpikir mekanistik.
Hasil Pretest menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa pada kedua kelas
masih rendah. Sebagian besar siswa berada pada level non-mechanistic dan basic.
Hasil uji Mann–Whitney terhadap data Pretest memperoleh nilai signifikansi
sebesar 0,180. Nilai tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan
kemampuan awal yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Dengan demikian, kedua kelas memiliki kemampuan awal yang relatif setara
sebelum diberikan perlakuan. Setelah pembelajaran, hasil uji Mann–Whitney
terhadap data Posttest memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,007. Nilai tersebut
menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan berpikir
mekanistik siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Rata-rata Posttest kelas
eksperimen sebesar 3,2778, sedangkan rata-rata kelas kontrol sebesar 2,7778. Skor
minimum pada kelas eksperimen sebesar 2, sedangkan kelas kontrol masih
memiliki skor minimum 1. Hasil tersebut menunjukkan bahwa siswa yang
mengikuti pembelajaran MBL memiliki kemampuan yang lebih baik dalam
menjelaskan mekanisme perpindahan kalor secara konduksi.
Analisis terhadap LKPD menunjukkan perkembangan kemampuan berpikir
mekanistik pada setiap fase pembelajaran. Pada fase awal, penjelasan siswa masih
didominasi oleh deskripsi sederhana mengenai panasnya sendok dan arah rambatan
kalor. Pada fase berikutnya, siswa mulai mampu menjelaskan urutan pelelehan lilin
berdasarkan jaraknya dari sumber panas. Perkembangan yang lebih jelas terlihat
mulai fase ketiga, ketika siswa menggunakan atom, getaran partikel, tumbukan, dan
elektron bebas untuk menjelaskan perpindahan energi. Pada fase keempat dan
kelima, sebagian besar siswa telah mampu menyusun hubungan sebab-akibat secara
runtut serta menerapkan model konduksi untuk membedakan bahan konduktor dan
isolator. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan
Modeling Based Learning memberikan pengaruh signifikan terhadap kemampuan
berpikir mekanistik siswa pada materi perpindahan kalor secara konduksi.
Pembelajaran ini membantu siswa mengembangkan penjelasan dari tingkat
makroskopis menuju mikroskopis serta membangun model mekanisme konduksi
secara lebih lengkap dan ilmiah.
Description
Finalisasi Repository Hasyim September 2026
