Keperawatan Pasien Asma dengan Pola Napas Tidak Efektif Yang Mendapatkan Terapi Buteyko di Puskesmas Padang Lumajang
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keperawatan
Abstract
Asma adalah salah satu penyakit yang bersifat tidak menular yang
termasuk ke dalam 10 penyakit penyebab kematian dan tidak dapat disembuhkan
tetapi hanya dapat mengurangi tingkat kekambuhannya. Penyempitan jalan napas
dan penurunan kapasitas vital karena edema bronkus sebagai reaksi terhadap
alergen dan zat polutan menyebabkan pola napas tidak efektif. Tatalaksana yang
dilakukan untuk mengatasi pola napas tidak efektif adalah manajemen jalan napas
dan pemantauan respirasi, serta intervensi pendukung yaitu dukungan ventilasi
dengan terapi Buteyko. Tujuan penyusunan laporan tugas akhir ini adalah untuk
menerangkan bagaimana pengaruh terapi Buteyko terhadap perubahan pola napas
pada pasien asma di Puskesmas Padang.
Penyusunan laporan tugas akhir ini menggunakan pendekatan studi kasus,
kepada 1 pasrtisipan asma yang didiagnosis asma, mengalami pola napas tidak
efektif, pernah dirawat inap dan pasien rawat jalan di Puskesmas Padang,
composmentis, dan menandatangani informed consent. Intervensi yang diberikan
adalah terapi Buteyko, yang dilakukan selama 3 kali kunjungan (dalam waktu 2
minggu), sehari 3 kali (pagi, siang, dan malam) selama ± 15 menit.
Hasil implementasi selama 3 kali kunjungan menunjukkan pola napas
partisipan membaik dibuktikan dari hasil pengukuran SpO2 dari 94% menjadi
98%, frekuensi napas dari 26x/menit menjadi 20x/menit. Partisipan dapat
mencapai kriteria hasil yang ditetapkan yaitu sesak napas menurun, fase ekspirasi
membaik, frekuensi napas membaik, penggunaan otot bantu pernapasan menurun,
ortopnea menurun, pernapasan cuping hidung dan pursed-lip menurun.
Dari hasil tersebut, bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini
dapat memberikan dan menunjang informasi baru dalam melakukan penelitian
berikutnya. Bagi perawat Puskesmas diharapkan dapat menerapkan terapi
Buteyko sebagai intervensi pendukung terapi farmakologis untuk mencegah asma.
Bagi pasien dan keluarga diharapkan bisa melnjutkan intervensi secara mandiri
dan berkelanjutan.
